Home » , , » “Dilema Fadlilatul Ustadz Abu Nashim Mukhtar Dalam Romantika Thalabul Ilmi” (Part 3)

“Dilema Fadlilatul Ustadz Abu Nashim Mukhtar Dalam Romantika Thalabul Ilmi” (Part 3)



PART KETIGA

(Tulisan ini merupakan tinjauan ilmiyah terhadap audio atau rekaman yang berjudul “Romantika Muda Mudi Dalam Thalabul Ilmi”. Tak terlupa juga kakak maksudkan tulisan ini hanya semata-mata sebagai nashihat untuk Islam dan muslimin. Teriring doa semoga nafi’ dan mabruk. Amin)

JUDUL TULISAN : 

“Dilema Fadlilatul Ustadz Abu Nashim Mukhtar Dalam Romantika Thalabul Ilmi”

بسم الله الرحمن الرحيم

Walhamdulillah pada Bagian Kedua kita telah sama-sama melakukan tinjauan hingga pada poin ke-lima. Adapun pada bagian ini insya Allah kita akan meninjau pada poin-poin berikutnya. Bi_idznillahi wabi masyiatih. Baiklah mari langsung saja kita meninjau ke TKP :
____________

(6). KEENAM

Pada menit ke 60 : 01 fadlilatul ustadz berkata :

(“Sebagian yang menolak mengatakan: datanya mana? Oow bohong, apa iya, ngapusi. Lahaula wa quwwata illa billah, dengan kata-kata seperti itu sudah menuduh asatidzah berdusta di hadapan ulama. Dan menuduh para ulama berfatwa berdasarkan data palsu dusta dan kebohongan. Ini tidak benar, manhaj kita bukan seperti itu, akan tetapi manhaj kita sebagaimana telah diterangkan yaitu al quran dan sunnah, ikuti bimbingan ulama.”)

Kakak katakan :

Ini adalah untuk yang kedua kalinya fadlilatul ustadz melakukan atau mengatakan dan menyatakan sebuah keanehan, bahkan keajaiban di atas keajaiban!. Sebagaimana pada Poin Keempat fadlilatul ustadz menggelari orang-orang yang ingin bertabayun dan bertatsabbut lebih detil dengan istilah “kurang beradab tidak beradab bahkan tidak beradab sama sekali”. Dan pada poin ini pula kembali fadlilatul ustadz mengulang memberi gelar orang-orang yang hendak bertatsabbut dan bertabayyun dengan istilah “telah menuduh para asatidz berdusta dan para ulama berfatwa berdasarkan data palsu ila akhir min kalamih”. Lahaula wala quwwata illa billah, subhanalloh hadza buhtan ‘adzim ya ustadz!!.

Kemudian fadlilatul ustadz menggunakan siyak dan konteks kalimat sekehendak-nya agar terkesan orang-orang yang bertabayun kepada beliau memang benar-benar tidak beradab. Padahal jika fadlilatul ustadz sebagai seorang yang berilmu dan mampu menduduk-kan masail dan perkara yang ada dengan baik dan ilmiyah, tentu tidak begitu dalam menduduk-kan dan mentafshil masalah. Tidak dengan asal menukil dan asal ceplos mengucapkan kalimat, namun nukil-lah dan ambil-lah dari orang-orang yang memang benar-benar beradab ‘udul adil dan tsiqah shidq jujur di atas keilimiyahan dalam masail tatsabbutiyah.

Bukan menukil dari kalangan orang yang tidak bisa menjaga lisan dalam berucap. Karena jika hendak main nukil-menukil dari orang-orang yang tidak bisa menjaga lisan dan ucapan, orang-orang yang ada di belakang ustadz juga sangat banyak yang buruk ucapan-nya. Namun pantaskah seorang yang berpredikat alumnus Yemen atau Timur-Tengah berbuat demikian?!. Sungguh keanehan di atas keanehan!.

Kemudian, duhai fadlilatal ustadz, engkau adalah ustdaz kondang yang konon terkenal memiliki kecerdasan dengan gaya bahasa dan retorika bicara yang tinggi. Namun disini nampak-nya anda bukan seperti seorang yang sedang banyak diagung-agungkan dan digambarkan dengan selogan tersebut!. Kakak menashihatkan kepada fadlilatul ustadz, berkaitan dengan ucapan ustadz yang memukul rata seakan muthlaq haram dan tidak boleh bertanya dan bertabayyun akan kronologi bagimana asal-muasal sehingga muncul fatwa tersebut bahkan menuduh tidak beradab de el el. Kakak nashihatkan kepada fadlilatul ustadz :

Coba al ustadz kembali mengkaji salah satu kitab karya Imam An Nawawi rahimahullah yang bernama “Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab”. Dimana al imam An Nawawi rahimahullah berpanjang-lebar menjabarkan masail adab berkaitan dengan al Fatwa wal Mufti wal Mustafti dalam muqaddimah-nya, dan demikian juga kitab “Al Mudzakkirah” syeikh Muhammad Amin Asy Syinqithiy rahimahullah. Kesimpulan-nya, jika al ustadz telah selesai mentela’ah masail tersebut. Kakak ingin bertanya kepada fadlilatul ustadz :

Apa pendapat para ulama tentang para penuntut ilmu yang ingin bertatsabbut dan bertabayyun?!. Apakah para ulama madzahib menyatakan haram dan tidak boleh?!. Atau malah justru bertatsabbut dan bertabayyun terhadap suatu masail -terlebih masail manhajiyah- adalah sesuatu yang bersifat mandub dan mustahab alias dianjurkan, bahkan dalam suatu keadaan terkadang menjadi wajib?!. Dan terlepas dari semua itu, taqlid adalah sesuatu yang tercela dan bahkan dalam maratib ilmu: taqlid adalah derajat paling bawah dan paling rendah. Bahkan terkadang taqlid adalah sesuatu yang diharamkan. Iya apa tidak ya fadlilatal ustadz?!. Baarolakallohufik. Jangan lupa ditela’ah baik-baik kitab tersebut ya, (inget) jangan sampai lupa!

Adapun perkataan fadlilatul ustadz : (“manhaj kita bukan seperti itu, akan tetapi sebagaimana telah diterangkan yaitu al quran dan sunnah, ikuti bimbingan ulama.”)

Kakak katakan :

Jika fadlilatul ustadz menukil seperti yang diucapkan oleh fadlilatul ustadz yakni orang yang bertabayyun berucap dengan konteks : (“datanya mana? Oow bohong, apa iya, ngapusi”). Maka jelas yang demikian adalah bertanya dengan nada yang tidak beradab dan terkandung kalimat tuduhan. Dan jelas ini bukan manhaj kita dalam bertabayyun dan bertatsabbut. Akan tetapi itu adalah ucapan orang yang sedikit ilmu-nya yang tidak selayak-nya seorang ustadz sekaliber anda menukil ucapan dengan konteks tersebut. Dan lebih tidak dibenarkan lagi jika al ustadz dengan sengaja menukil ucapan tersebut dengan maksud untuk menjatuh-kan lawan dari sisi tidak bisa menjaga adab dalam berbicara. Karena sejatinya baik dari fihak anda maupun dari fihak lawan anda, sama-sama banyak yang belum bisa menjaga lisan dan ucapan. Iya enggak?!

Akan tetapi jika yang bertanya dalam rangka menjalan-kan dan mengamalkan perintah Allah untuk menjauhi taqlid dan agar berada di atas argument dan alasan yang jelas sebagaimana dijelaskan oelah an Nawawi dan asy Syinqithiy, apakah bersalah ya fadlilatal ustadz?!. Maka nukil-lah kalimat ungkapan dan ucapan dari mereka orang-orang yang benar-benar ingin bertabayyun dan bertatsabbut dan mampu menjaga ungkapan dan ucapan dengan baik ya fadlilatal ustadz!!. Jangan asal menukil!! Jangan engkau kesankan orang-orang yang ingin bertatsabbut guna beramal di atas argument yang jelas sebagai orang yang tidak beradab ya ustadz?! Baarokallahu fikum.
____________

(7). KETUJUH

Kemudian pada menit 60 : 02 beliau berkata :

(“Ada bukti yang menunjuk-kan bahwa kebohongan dan dusta itu diajarkan melalui buku lembar siswa. Apa iya? Masa lulusan Jami’ah Islamiyah mengajarkan bohong? Enggak mungkin lah. Di dalamnya ada cerita kesyirikan mitsalkan. Lho buktinya ada eh mas, munkin secara langsung tidak. Tetapi bukunya sampai kepada anak-anak dibawa pulang, dibaca di rumah.”)

Kakak katakan :

Ya fadlilatal ustadz yang terhormat, lagi-lagi dan untuk ke sekian kalinya anda hendak menampilkan diri sebagai sosok yang menyerukan keilmiyahan dan kebersihan yang steril luar dalam.

Duhai jika anda terus berjuang memperbincangkan dengan fihak yang bersengketa dengan anda dan person-person yang berada di belakang anda, dengan cara melanjutkan mencari jalan kesepakatan sebagaimana yang telah dituangkan dalam penjelasan Dzulqarnain, tentu ini lebih baik dan ashlah buat anda pribadi dan buat semua fihak secara umum. Namun sangat disayangkan hal ini belum tercermin pada diri anda ya fadlilatal ustadz!.

Jika hendak saling beradu bukti, tentu fadlilatul ustadz-pun lebih tidak bisa lepas lagi dari kebohongan dan kedustaan. Bahkan al ustadz bukan cuma sekedar mempelajari. Namun praktik nyata di lapangan bahkan level internasional duhai ustadz!. Yang tentunya di dalamnya juga terdapat banyak pelangggaran dan penyimpangan!.

Seharus-nya dalam menghadapi suatu problema yang bersifat sebagai masalah dan tanggungan bersama sesama salafiyun, itu bukan malah acuh dan menantang adu argument dan data, dan dijadikan sebagai sebab untuk menjatuhkan lawan dan bahan emas untuk kajian Skandal Tahdzir Serampangan. Tidak, tidak demikian!. Karena jika untuk perbuatan seperti ini semua orang bisa dan mampu melakukan-nya. Namun bagaimana cara menemui titik temu dan jalan keluar yang terbaik bagi kedua belah fihak yang bersengketa, ini yang seharus-nya difikirkan bersama ya syeikh?!.
______________

(8). KEDELAPAN

Kemudian pada menit 60 : 03 fadlilatul ustadz berkata :

(“Alhamdulillah ketika para asatidzah bertanya kepada para ulama dengan data yang valid akurat dan tidak dibuat-buat. Munkin data itu selama ini belum tersampaikan. Maka insya Alloh pada kesempatan kali ini, akan kita sampaikan sedikit demi sedikit untuk membuktikan bahwa fatwa syeikh Ubaid hafidzahullah bukan berdasarkan berita palsu dan dimanipulasi. Tetapi berdasarkn data dan fakta.”) Dan disini fadlilatul ustadz mensharih-kan lafadz Al Madinah Solo.

Kakak katakan :

Masya Alloh, kali ini kakak salut kepada fadlilatul ustadz yang akhir-nya dengan sedikit lantang dan berani menampak-kan data yang ada. Duhai andaikata data berkaitan dengan Dzulqarnain juga disebutkan. Alangkah indah-nya

Dan kakak nashihatkan hendak-nya juga fadlilatul ustadz dan orang-orang yang ada di belakang ustadz berhati-hati jangan membiasakan diri merasa tertuduh telah memberi data dusta atau palsu de el el ketika ada seseorang yang hendak bertatsabbut kepada al ustadz dan orang-orang yang ada di belakang al ustadz. Karena itu akan memberikan kesan fadlilatu ustadz memaksa para jama’ah untuk taqlid. (Ngeri dan ngiloe dengernya) ada jama’ah mau tabayun kok malah tiba-tiba al ustadz merasa tertuduh telah menyampaikan data palsu. (foeyenk duech)

Dan hendak-nya al ustadz juga memahami bahwa fihak-fihak yang bertatsabbut bukan menuduh para ulama berfatwa berdasarkan data palsu, ini nama-nya al ustadz berburuk sangka alias su’u dhzan. Tetapi lebih tepat-nya fihak yang bertatsabbut itu menyatakan dan mengatakan bahwa “Al Hukmu Yaduuru Ma’a Illatih” fatwa itu sangat berpengaruh berdasarkan konteks yang diajukan. Oleh karena itu fadlilatusy syeikh Ubaid hafidzahullah berulang-ulang kali mengatakan “Kama Naqalta” sebagaimana yang kamu nukilkan kepada-ku. A Laisa Kadzalik ya Ustadz?!
_________________

(9). KESEMBILAN

Kemudian pada menit 60 : 04 fadlilatul ustadz berkata :

(“Ada bukti fisiknya di rumah. Ini hanya sedikit-sedikit foto copy yang saya bawa sebagai bukti. Kita mau adu bukti siap. Munkin :

يستخفون من الناس ولا يستخفون من الله

Munkin kita bisa menyembunyikan data dari orang, tapi Alloh maha mengetahui.

Data ini diperoleh dari siswa, yang orang tuanya, walinya menemui kita, datang dengan sedih mengatakan : ustadz kok gini sich pendidikan-nya. Adek saya diajarkan seperti ini.

Alhamdulillah ini data-data akurat, tidak bisa dibantah insya Alloh kecuali ora (tidak_jawa) jujur. Contoh-nya bacalah teks drama di bawah ini dengan seksama.”) Kemudian fadlilatul ustadz membacakan drama tersebut.

Kakak katakan :

Baarokallohu fikum ya ustadz atas ke-gentel-an anda dalam keterbukaan data dan fakta yang ada. Aduhai andai problem yang berkaitan dengan Dzulqarnain juga se-gentel apa yang dilakukan oleh fadlilatul ustadz…

Namun ada yang cacat dan kurang dari perbuatan anda ya syeikh. Setelah datang-nya wali murid dengan membawa data-data tersebut kepada anda, yang sudah anda kumpulkan bertahun-tahun yang kata anda hingga mencapai tiga dos satu tas plus satu kresek. Apakah anda sudah melakukan kontak pribadi sebagai nashihat dengan fihak yang bersangkutan sesama salafiyin?! Sebelum anda berteriak-teriak lantang di depan publik ataukah belum?! Ataukah sudah, tetapi telah habis kelembutan dan kesabaran?! Lalu dimana diletak-kan marahil amar ma’ruf nahi munkar oleh anda ya ustadz?!. Janganlah sampai kita menjadikan cacat dan aib yang ada pada saudara kita sebagai bahan emas Skandal Tahdzir Serampangan ya akhi… Tetapi bersemangatlah dan teruslah bersabar berjuang untuk mengishlah keadaan dan cacat-cacat yang ada diantara kaum muslimin, terlebih sesama salafiyin!. Bukan-kah anda pandai bermuamalah bersama orang awam dan orang-orang NU di Parang Tritis?, namun mengapa anda tidak pandai bermuamalah bersama Na’im dan Jauhari?.

Yang jika anda menghendaki saling ishlah akan problem dan sengketa yang ada, jika anda masih memperhatikan akan adanya perencanaan saling mewujudkan kesepakatan mengajukan naskah kepada para masyaikh sebagaimana tercantum dalam salah satu poin ishlah di hadapan syeikh Abdullah Al Bukhari hafidzahullah sebagaimana yang anda bacakan?!. Untuk tetap melangkah bersama saling memperbaiki antara satu dan yang lain-nya. Lalu dikemanakan semua nashihat dan kesepakatan untuk saling ishlah tersebut?. Jangan pernah berhenti dan menyerah. Namun maju bersabar dan bersemangat-lah untuk tetap saling memperbaiki, walau fadlilatul ustadz yang memulai, niscaya akhlaq anda akan semakin terpuji.
______________

(10). KESEPULUH

Kemudian pada menit 60 : 06 fadlilatul ustadz berkata :

(“Munkin kan alasan (yakni al Madinah beralasan): kan bisa dibantah dan dijelaskan. Mau dibagaimana wong anak kecil kok. Lha kalau semua pelajaran-nya isinya begini. Massa’ tiap hari mbantaaaah terus. Ini ngga bener, sudah tau ngga bener kok diserahkan ke siswa itu lho (dengan nada cetus dan tinggi).”)

Kakak katakana :

Kalimat yang disampaikan oleh al ustadz hanyalah berulang-ulang tidak berbeda jauh dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Jika kita telah membaca pada poin-pon sebelumnya insya Alloh tidak pusing menjawabnya.

Hanya saja disini ada tambahan, fadlilatul ustadz mengatakan : (“Lha kalau semua pelajaran-nya isinya begini. Massa’ tiap hari mbantaaaah terus”.)

Kakak katakan : ini adalah kalimat yang tidak benar, semoga al ustadz bersedia rujuk dan mencabut dari ucapan ini dengan pernyataan dan syarat rujuk dan taubat yang syah. Ini adalah tuduhan bahwa Al Madinah berarti semua pelajaran-nya tiap hari adalah dusta dan kebohongan. Sungguh ucapan fadlilatul ustadz adalah kedustaan yang sangat nyata. Dan apabila al ustadz tidak mencabut dan bertaubat dari ucapan tersebut, benar-benar al ustadz telah memikul beban dosa yang sangat besar. Dan janganlah berbuat mujrim (aniaya) dalam mendatangkan argument wahai fadlilaul ustadz, walau terhadap kaum yang engkau benci sekalipun. Tetapi berlakulah yang adil duhai ustadz!. Sesungguhnya para malaikat mencatat apa yang anda ucapkan tersebut.

Apakah anda tidak melihat bagaimana kurikulum yang asli terbitan dari Al Madinah (bukan dari pemerintah) semua mengacu kepada kurikulum Mamlakah Su’udiyah Al ‘Arabiyah?!. Yang kitab aslinya juga dipakai di Jember dan dicetak dan diterjemah yang kemudian dijadikan acuan kurikulum di Jember?. Dimana pengamalan dan praktik kejujuran dan keikhlasan yang baru saja anda dengung-dengungkan ya fadlilatal ustadz?!
____________

(11) KESEBELAS

Kemudian pada menit 60 : 08 fadlilatul ustadz sedikit menguraikan tentang keikhlashan dan kejujuran. Beliau berkata :

(“Yang kita butuhkan memang kejujuran, sekarang, ikhlash itu perlu. Justru yang paling berat dipoin ikhlash. Ikhlas ketika menyampaikan, ikhlas ketika mengkritik, ikhlas ketika mendengar, ikhlas ketika menerima, ikhlas dalam segala-galanya. Ikhlas di dalam bermanhaj, ikhlas di dalam berakidah, ikhlas dalam beribadah itu yang paling berat.

Kadang-kadang kesalahan itu terjadi, bahkan kesalahan itu dilihat didengar diketahui sekian banyak orang. Tapi karena tidak ada keikhlasan di dalam hati. Akhirnya berusaha untuk mengingkari. Owh enggak bukan seperti itu, maksudnya begini begitu.

Padahal jelas itu adalah sebuah kesalahan yang telah dilakukan. Maka pentingnya ajaran ikhlas yah, ajaran ikhlas itu pentiiiiing sekali untuk ditanamkan agar kita berbicara dengan ikhlas. Juga menerimanyapun dengan ikhlas. Berbicara itu di atas ilmu dan bukti dan data. Karena Alloh melarang berbicara dan bertindak dan bersikap tanpa dasar ilmu.

ولا تقف ما ليس لك به علم

Jangan engkau berucap, jangan engkau berbuat sesuatu yang engkau tidak punya ilmunya.

Jadi apa yang kita ucapkan, apa yang kita sampaikan harus ada dasarnya. Owh ini dalilnya, ini buktinya, ini datanya.”)

Kakak katakan :

Masya Alloh ini adalah nashihat yang jayyidah mumtazah sekaligus cermin dan renungan untuk kita bersama ya fadlilatal ustadz. Semoga juga ustadz tidak lupa dan tidak berhilah dengan ucapan ustadz yang menyatakan bahwa : Al Madinah semua pelajarannya adalah kebohongan dan kedustaan dan penyimpangan setiap hari. Dan semoga sudi untuk rujuk dan mencabut ucapan tersebut dan bertaubat dengan syarat taubat yang shah. amin
________________

(12). KEDUA BELAS

Kemudian pada menit 60 : 12 fadlilatul ustadz berkata :

فلا وربك لا يؤمنون حتى يحكموك فيما شجر بينهم ثم لا يجدوا في أنفسهم حرجا مما قضيت ويسلموا تسليما

Sekali-kali tidak demi Rabb-mu ya Muhammad, mereka itu belum sempurna iman-nya sampai mereka menjadikanmu sebagai hakim, pemutus, penentu salah, benar, hak, bathil, lurus, bengkok, baik, buruk dalam segala hal-hal yang diperselisihkan. Setelah keputusan itu kita ketahui, tidak ada rasa sedikitpun berat di dalam hati kita untuk melaksanakan keputusan dan bimbingan dari nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan mereka mau menerima dengan sepenuh hati, dengan senang, dengan tenang, dengan gembira dan pasrah.

Ini adalah keputusan Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, bimbingan para ulama. Inilah jalan yang terbaik, mudah, ringan. (selesai sesi pertama)

Kakak Katakan :

Semoga kita semua benar-benar jujur dan benar-benar ikhlash, benar-benar ingin menjalankan perintah Alloh dan Rasul-Nya. Salah katakan salah, benar katakan benar. Dan benar-benar ingin saling memperbaiki, bukan saling menjatuhkan. Benar-benar ingin bertahkim untuk saling melengkapi bukan saling mencacati. Wabillahit taufiq.

Walhamdulilah selesai tinjaun ilmiyah ini hingga Bagian Ketiga untuk audio Sesi Pertama. Dan untuk tinjauan audio Sesi Kedua insya Alloh akan segera dirilis pada PART SELANJUTNYA bi idznillahi wabi masyiatih.

TAMBIH : adapun tentang masail kalam dan filsafat insya Alloh akan dimasuk-kan ke dalam sub dan pembahasan tersendiri. Karena membutuhkan lapak yang cukup luas.

Dan kepada hadlirin sekalian sebagaimana biasa S & K berlaku. Dan bagi yang luput tidak tersapa mohon maaf dan harap dimaklumi. baarokallohufikum

Ditulis oleh : al faqir ila rahmati Rabbih kakakPedagang Singkong.


sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=554005491365866&set=a.550427535056995.1073741828.100002692610871&type=1&theater&notif_t=like_tagged

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.