"Purwito Tukang Sampah Meremehkan Syaikh Robi"
(Mendeteksi karakteristik Haddadiyyah Dalam Situs tukpencarialhaq)
Purwito siang malam tak henti-hentinya menghembuskan nafas permusuhan ditubuh kaum Salafiyyun, ada saja bahan yang ia jadikan sebagai legalisir untuk mendiskreditkan duat Ahlussunnah (salafiyyin). Menjauhkan manusia dari cahaya kebenaran merupakan ciri khas iblis laknatullah yang senantiasa melancarkan makar dan tipu dayanya bagi anak cucu Adam, agar mereka menemaninya kelak di Neraka, wal 'iyadzubillah.
Dakwah yang berisikan "arahan-arahan lembut nan berfaidah" pun dikamuflase menjadi sebuah celaan dan dibesar-besarkan layaknya dosa yang tak akan terampuni, padahal isi dari arahan itu sangat bagus dan menenangkan jiwa. Tentunya bagi jiwa yang sehat dan bersih, bukan bagi jiwa yang sakit lagi kotor. Semua itu tidak lepas dari tendensi tertentu dibalik layar situs setan "tukpencarialhaq"
Nasehat indah nan lembut memang sudah tidak bererti bagi manusia yang rusak hati dan pemikirannya, sehingga membuatnya bertambah sombong dan mudah meremehkan orang lain. Pengekor hawa nafsu selalu saja sok jagoan dan merasa di atas kebenaran dalam rangka melariskan perbuatan tercelany.
Apa benar ada makhluk yang tidak menyukai kelembutan dan keindahan? Jawabannya ada!, selengkapnya para pembaca bisa dapatkan di situs setan berikut ini:
http://
Karena kebencian dan kebodohan Purwito, akhirnya ia berani mencela orang-orang yang mengajak kepada kelembutan. Padahal Nabi shallallahu 'alaihi menganjurkan perkara tersebut dalam banyak hadits, diantaranya:
( إن الله يحب الرفق في الأمر كله ) رواه البخاري 6395
"Sesungguhnua Allah mencintai kelemah-lembutan pada seluruh perkara" (Diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhary rahimahullah nomor: 6395)
( إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه . ولا ينزع من شيء إلا شانه ) رواه مسلم 2594
"Sesungguhnya tidaklah kelemah-lembutan berada pada sesuatu melainkan ia menjadikannya indah, dan tidaklah (kelemah-lembutan) dicabut dari sesuatu melainkan menjadikannya rusak." (Diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim rahimahullah nomor: 2594)
من أعطي حظه من الرفق فقد أعطي حظه من الخير , ومن حرم حظه من الرفق فقد حرم حظه من الخير ) رواه الترمذي 2013وقال حسن صحيح
"Barangsiapa yang telah diberikan bagiannya berupa kelemah-lembutan, maka sungguh ia telah diberikan bagiannya berupa kebaikan, dan barangsiapa yang diharamkan bagiannya berupa kelemah-lembutan maka sungguh ia telah diharamkan bagiannya berupa kebaikan." (Diriwayatkan oleh Al-Imam At-Tirmidziy rahimahullah nomor 2013, dan ia berkata "hasan shahih")
إن الله عز وجل يحب الرفق ويرضاه ويعين عليه ما لا يعين على العنف )صحيح الترغيب / المنذري – الألباني2668
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla mencintai kelemah-lembutan dan meridhainya, dan (Allah) menolong atasnya apa yang tidak Allah tolong atas kebengisan." (Lihat Shahih At-Targhib karya Asy-Syaikh Al-Albaaniy rahimahullah nomor: 2668)
Apakah Purwito ga pernah baca hadits-hadits di atas? Ataukah ia pernah membacanya namun menentangnya? Kalau Purwito pilih opsi pertama bererti dia telah berbicara tanpa ilmu dan dia tak layak mencerca Al-Ustadz Ibnu Yunus dan Al-Ustadz Kholiful Hadi hafidzahumallah, namun jika Purwito memilih opsi kedua bererti ia adalah makhluk yang celaka! (Silahkan dipilih)
Setelah beberapa Asatidzah dijatuhkan kehormatannya tanpa ilmu yang dibangun atas dasar hawa nafsu dan permusuhan, kini adalah giliran Al-Ustadz Ibnu Yunus dan Al-Ustadz Kholiful Hadi hafidzahumallah.
Benarkah Al-Ustadz Ibnu Yunus dan Al-Ustadz Kholiful Hadi menjajakan syubhat bathil al-Halaby sebagaimana tuduhan akh Purwito? Ataukah justru Purwito-lah yang sedang menjajakan karasteristik Haddadiyyah dalam situsnya? Mari kita simak pembahasan berikut ini:
A. Purwito mengatakan:
"Lihatlah bagaimana Ibnu Yunus berupaya keras mengangkat sang Profesor dari keterpurukannya dengan memunculkan “arahan-arahannya yang lembut dan berfaidah” sebagai bimbingan dalam menghadapi fitnah padahal yang bersangkutanlah yang lebih berhajat pertama kali untuk rujuk, bertaubat dan menerima arahan dari masyaikh yang telah menjelaskan berbagai penyimpangan dan fitnah yang dikobarkannya. Allahul musta’an.Subhanallah, benar-benar syubhat yang amat sangat halus menjebak, menampilkan “pujian” Asy Syaikh Rabi dari kitab beliau yang isinya sebenarnya membongkar penyimpangan-penyimpangann
Bantahan dari beberapa sisi:
1. Kalau kita meminjam manhaj aneh Purwito ini, bererti Purwito telah mengatakan bahwasanya Asy-Syaikh Robi hafidzahullah telah menyebarkan syubhat halus dan menjebaknya Sayyid Quthb, karena Asy-Syaikh Robi hafidzahullah juga menukil ucapan Sayyid Quthb sebagai istisyhaad(pendukung bukti)dalam kitabnya yang berisi anjuran kepada para politikus untuk memperhatikan akidah yang benar, padahal Asy-Syaikh sendiri yang membantah berbagai peyimpangan dan fitnah yang dikobarkan oleh Sayyid Quthb.
Asy-Syaikh Robi hafidzahullah mengatakan setelah menukil ucapan Sayyid Quth sebagai istisyhad (pendukung bukti):
"Dan 'istisyhaaduna' (pendukung bukti bagi kami) dengan ucapannya ini (dari sisi)tinjaun hasilnya, bahwa sesungguhnya terjun/masuk ke dalam politik telah memudhorotkan pemuda Islam dan tidak memberi manfaat bagi mereka." (Lihat Kitab beliau Manhajul Anbiya fi Da'wati ilallah fihil Hikmah wal Aql, halaman: 193) atau download di sini: http://rabee.net/ar/
2. Asy-Syaikh Robi hafidzahullah saja masih menggunakan ushlub dan cara yang sopan dan beradab terhadap Asy-Syaikh Ibrohim Ar-Ruhailiy, beliau masih menggunakan gelar "DR" (Ad-Duktuur) bagi Asy-Syaikh Ibrohim Ar-Ruhailiy hafidzahullah. Demikianlah seorang alim yang memiliki ilmu dalam membantah dan memberikan nasehat, berbeda dengan seorang yang dungu seperti Purwito yang tanpa sopan santun melecehkan Asy-Syaikh Ibrohim Ar-Ruhailiy hafidzahullah, tapi anehnya akh Purwito berlagak seperti seorang alim yang telah menguasai banyak disiplin ilmu? Hebat kan? Luar biasa!
Perhatikan ucapan Asy-Syaikh Robi hafidzahullah terkait nasehat Asy-Syaikh Ibrohim Ar-Ruhailiy hafidzahullah yang dinukil oleh Al-Ustadz Ibnu Yunus hafidzahullah:
"Kemudian DR. Ibrahim menutup nasehat-nasehat tersebut dengan wasiat-wasiat yang bagus (jayyidah). Aku memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepadanya untuk mewujudkan nasehat tersebut dengan sebaik-baiknya. Dan agar Allah memberikan taufik kepadanya dalam mengambil sikap yang benar terhadap apa yang terkandung dalam nasehat beliau dari kesalahan-kesalahan ilmiah. " (selesai)
Ane (Tedo Hartono) katakan:
Perhatikan dengam baik, beliau mengatakan "wasiat-wasiat yang bagus", eh akh Purwito malah membantah Syaikh Robi dengan mengatakan itu adalah "Syubhat halus menjebak"? Apakah Syaikh Robi hafidzahullah ga tahu kalau itu adalah "syubhat halus menjebak"? Ataukah akh Purwito yang sok tahu dan lebih pinter dari Asy-Syaikh Robi hafidzahullah? (Kembali kepada pembaca yang menilainya)
B. Purwito berkata dengan penuh kesombongan berlagak seperti seorang ustadz:
" Waspadalah ya ikhwah dari peringatan dan larangan orang tua kita untuk duduk menimba ilmu dan mendengarkan Ibrahim Ar Ruhaily dan orang-orang yang setipe dengannya semisal Ash Habusy syubhat Ibnu Yunus ini."
Bantahan:
1. Kalau Al-Ustadz Ibnu Yunus hafidzahullah adalah Ashhabusy syubhat sebagaimana tuduhan akh Purwito, bererti Asy-Syaikh Robi hafidzahullah adalah Ashhabusy Syubhaat juga? Karena beliau sendiri memuji nasehat tersebut. Beranikah Purwito dan asatidzah yang berada di balik layar situs setan "tuqpencarihaq" memvonis Asy-Syaikh Robi hafidzahullah sebagai Ashabusy syubhaat? Karena tidak mungkin Al-Ustadz Ibnu Yunus berani menerjemahkan nasehat itu melainkan adanya rekomendasi Syaikh Robi hafidzahullah sendiri yang mengatakan "wasiat-wasiat yang bagus", dan dengan sikap jujur dan ilmiyyah Al-Ustadz Ibnu Yunus hafidzahullah menyebutkan judul buku Asy-Syaikh Robi hafidzahullah yang membantah kitab Asy-Syaikh Ibrohim Ar-Ruhailiy hafidzahullah. Masa sih harus diterjemahin semuanya? Inilah sikap curang akh Purwito dalam menjatuhkan orang yang ia benci, sikap ini pula yang ia lakukan terhadap Ane kemudian menuduh Ane memotong ucapan Luqman Ba'abduh. (Lihat bantahannya pada tulisan Ane pada status yang telah berlalu).
2. Kalau Purwito dan asatidzah yang bermain dibalik layar situs setan "tukpencarialhaq" masih saja berkelit dan mengatakan:
"Syaikh Robi hafidzahullah telah membantah kitab tersebut"
Ane (Tedo Hartono) katakan:
"Iya, benar! Beliau telah membantah kitab tersebut. Akan tetapi, apakah Asy-Syaikh Robi hafidzahullah membantah wasiat-wasiat yang diterjemahkan oleh Al-Ustadz Ibnu Yunus hafidzahullah itu? Jawabannya: tidak! Bahkan beliau memujinya sebagaimana telah berlalu penjelasannya.
Akan tetapi sikap melampaui batas dan kedzoliman serta kedengkian dan permusuhan telah menutupi mata mereka(Purwito cs) dan telah menghalangi mereka dari bersikap adil terhadap hamba-hamba Allah."
3. Menukil nasehat dari isi kitab berbeda dengan membahas isi kitab secara menyeluruh. Inilah yang tidak dipahami oleh akh Purwito dan asatidzah yang berada di balik layar situs "tukpencarialhaq". Hanya pandai "pukul rata" dan segala cara mereka gunakan untuk mendiskreditkan duat Salafy yang tidak mau tunduk di bawah garis komando mereka.
C. Purwito berkata:
"Lihatlah bagaimana Ibnu Yunus berupaya keras mengangkat sang Profesor dari keterpurukannya dengan memunculkan “arahan-arahannya yang lembut dan berfaidah” sebagai bimbingan dalam menghadapi fitnah padahal yang bersangkutanlah yang lebih berhajat pertama kali untuk rujuk, bertaubat dan menerima arahan dari masyaikh yang telah menjelaskan berbagai penyimpangan dan fitnah yang dikobarkannya. Allahul musta’an.Subhanallah, benar-benar syubhat yang amat sangat halus menjebak, menampilkan “pujian” Asy Syaikh Rabi dari kitab beliau yang isinya sebenarnya membongkar penyimpangan-penyimpangann
Bantahan:
Lihatlah bagaimana Purwito berupaya keras menjatuhkan Al-Ustadz Ibnu Yunus hafidzahullah, salahkah jika seseorang menampilkan pujian itu? Kenapa Purwito kagak berani menyalahkan Asy-Syaikh Robi hafidzahullah yang notabene adalah pelaku yang memuji "wasiat-wasiat" itu? Bukankah Al-Ustadz Ibnu Yunus hanya mengutip? Dan sekaligus menyebutkan kitab bantahan Asy-Syaikh Robi? Sekali lagi Ane katakan; beranikah Purwito menyalahkan Asy-Syaikh Robi hafidzahullah??? Ataukah memang Purwito yang sengaja menyalakan api permusuhan & memecah belah barisan Salafiyyun? Semoga Akh Purwito diberikan hidayah oleh Allah untuk bertaubat sebelum ajal menjemputnya. Allahul Musta'aan.
Setelah Purwito menjatuhkan kehormatan Al-Ustadz Ibnu Yunus, ternyata ia belum "kenyang" & belum puas, selanjutnya giliran Al-Ustadz Kholifuk Hadi hafidzahullah.....
D. Purwito berkata dengan nada merendahkan sambil mengutip ucapan Al-Ustadz Kholiful Hadi:
"Setelah berlalunya hari, maka muncullah jagoan lainnya yang jauh-jauh berangkat dari kota Gresik ke Sulawesi hanya untuk menjajakan syubhatnya Ali Hasan Al Halaby. Dialah yang bernama Khaliful Hadi hadahullah.Diantara perkataan Kholiful Hadi dalam taklimnya di Parapa dia berupaya memupuk pendengarnya dengan menularkan syubhatnya Al Halaby dan Al Ma’riby (laa yulzimuni):
“Tapi berkaitan dengan siapa yang lebih berhak, iki (ini-Jawa) masalah. Dan apa yang berhak menurut antum belum tentu berhak menurut saya. Kan begitu iya kan? Karena masing-masing kita tidak seilham.Kecuali kalau kamu dapat wahyu, “Oh iki (ini) si A begini, wahyu dari Allah, oke." Tapi kalau masalah ini khan masalah ilmu. Apa yang ilmu itu sharih kepada anda belum tentu sharih kepada saya. Ilmu yang sharih kepada saya belum tentu sharih kepada anda.Antum maksa saya untuk seperti kamu? Ya nggak iso (bisa).”
Bantahan:
Subhanallah! Sungguh luar biasa kebodohan Purwito ini, dan sangat nampak ia sedang menuangkan kebencian sekaligus menampakkan kebodohannya dalam menilai seseorang. Sebegitu gampangkah menilai seseorang? Benarkah orang yang mengatakan "laa yulzimuni" secara otomatis menjadi penular syubhatnya Al-Halaby dan Al-Ma'riby?
Apakah Purwito tidak sadar, bahwa dirinya sedang mengilzam/memaksa orang lain?
Sejauh mana Purwito akan konsisten dengan cara-cara busuk seperti ini?
Mari kita ikuti pembahasan berikut ini:
1. Apa yang disampaikan oleh Al-Ustadz Kholiful Hadi hafidzahullah adalah kebenaran, dan memang seperti itu para ahli ilmu sampaikan kepada kita. Ane pribadi tahu kapasitas keilmuan Al-Ustadz Kholiful Hadi, dan jika dibandingkan dengan Luqman Ba'abduh cs bagi Ane mereka sangat jauh ketinggalan, apalgi jika dibandingkan dgn seorang Purwito?....hhm jauh banget. Bagi Ane sangat wajar jika Al-Ustadz Kholiful Hadi hafidzahullah mengatakan "laa yulzimuni" terhadap orang-orang yg suka mendesak dan memaksakan pendapat, karena beliau adalah orang yg mengerti kaidah dan ushul fiqh serta memiliki banyak tulisan ilmiyyah dalam bahasa Arab.
2. Ternyata sikap mengilzam orang lain yang dilakoni Purwito yang ia adopsi dari Luqman Ba'abduh cs adalah jiplakan manhaj Haddadiyyah yang ditahdzir oleh para ulama. Apakah benar, seorang bebas mengilzam orang lain dengan selain Al-Quran& As-Sunnah? Sebagaimana manhaj Luqmaniyyin ini? Mari kita simak ucapan Asy-Syaikh Robi hafidzahullah berikut ini:
: «أمَّا علماء الإسلام -وعلى رأسهم الصَّحابة والتابعون وأئمة المذاهب الأربعة -وغيرهم- متَّفقون مُجْمِعون على أنَّه إذا استبانت السُّنَّة لأحد، لم يكن له أن يتركها لقول أحد.وقد جاء أن كثيرًا من الأئمَّة خالفوا وخرجوا عن المذاهب الأربعة كلِّها، وما خرجوا عن دائرةِ الإسلام ولا عن دائرةِ الكتاب والسُّنة، لأنَّ الإسلام أوسع من المذاهب الأربعة، الإسلام أوسع من دائرة الأئمة الأربعة، والأئمة الأربعة ما أنشأوا مذاهب ليلزموا الناس بها وحاشاهم، ولو ألزموا الناسَ بذلك لما وجبت طاعتُهم، لأن الله ما ألزمنا إلا باتِّباع محمد واتِّباع الوحي {اتِّبعْ ما أُوحي إليكَ مِن ربِّكَ}، {اتِّبعُوا ما أُنْزِلَ إليكُم مِن ربِّكُم ولا تَتَّبِعوا مِن دُونِه أولياءَ}؛ مأمورون باتِّباع هذا الوحي، والاعتصام به، ولسنا مُلزَمين بقول أحد من البشر، وكلهم رادٌّ ومردودٌ عليه»
"Adapun Ulama Islam -terutamanya Para Shahabat dan Tabi'iun serta empat imam madzhab- dan selain mereka, mereka bersepakat berijmak bahwasanya jika As-Sunnaj telah jelas bagi seseorang, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkannya demi ucapan seseorang. Sungguh telah datang(secara sah) bahwasanya kebanyakan para imam menyelisihi dan keluar dari madzhab-,adzhab yang empat seluruhnya, dan tidaklah (dengannya) mereka (dianggap) keluar dari lingkup Islam dan tidak pula dari lingkup Al-Quran & As-Sunnah, katena sesungguhnya Islam itu lebih luas dari madzhab-madzhab yang empat, Islam itu lebih luas dari lingkup para imam yang empat, dan para imam yang empat tidaklah mendirikan madzhab-madzhab (mereka) agar mengilzam(mengharuskan) manusia dengannya, sekali-kali mereka tidak demikian, dan jika seandainya mereka(aimmah arba'ah) mengilzam manusia dengan (madzhab) itu maka idaklah wajib untuk mentaatinya, karena sesungguhnya Allah tidaklah mengilzam(mengharuskan) kita melainkan mengikuti Muhammad(shallallahu'alaih
{Ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu dari Rabbmu}, {kalian ikutilah apa yang diturunkan oleh Rabb kalian kepada kalian, dan janganlah kalian mengikuti wali-wali selain-Nya}, mereka diperintahkan untuk mengikuti wahyu ini dan berpegang teguh dengannya, dan kita tidak diilzam(tidak diharuskan) dengan pendapat siapapun dari kalangan manusia, dan setiap mereka itu diterima dan tertolak (ucapannya)." [Lihat: Majmu'ul Kutub war Rasaa-il Asy-Syaikh Robi: 15/75-76]
3. Dalam suatu kasus, Asy-Syaikh Robi pernah berkata:
«يسألك: هل ابنُ حجر مُبتدع أو ليس مبتدع؟ تقول: ما أستطيع أن أقول: مُبتدع، أقول: أشعري، عنده أشعريَّة، بيَّنت.يقول: لا، قُل مبتدع.ما يلزمني شرعًا أن أقول هذا، السَّلف كثيرًا ما يُترجمون لبعض المبتدعة ولا يقول أحدهم: مبتدع، ولا يقول: قدري، ولا يقول: رافضي، يترجم له ويمشي، فلا يلزمني أن أقول: فلان مبتدع، فلان مبتدع، يلزمني أن أبين بدعَه وأحذِّر منها».
"Ia bertanya kepadamu: apakah Ibnu Hajar adalah seorang mubtadi' atau bukan mubtadi'?, maka engkau katakan (padanya): Aku tidak sanggup untuk mengatakan "mubtadi", Aku katakan: Asy'ariy, padanya ada 'Asy'ariyyah, engkau telah jelaskan. Ia berkata: Tidak, katakan "mubtadi'".
Tidak harus bagiku (Ma yalzamuni) secara syariat untuk mengatakan (seperti) ini, kebanyakan As-Salaf menyebutkan biografi sebagian ahli bid'ah dan tidak seorangpun dari mereka mengatakan: "mubtadi'", dan tidak pula ia mengatakan: Qodairiy, tidak pula ia mengatakan: Rofidhiy, ia menyebut biografi kemudian lanjut, MAKA TIDAK HARUS BAGIKU (LAA YULZIMUNI) untuk mengatakan: si fulan mubtadi', si fulan mubtadi', harus bagiku untuk menjelaskan bid'ahnya dan mentahdzirnya". [Lihat: Majmu'ul Kutub war Rasaa-il Asy-Syaikh Robi: 15/ 220].
Demikianlah penjelasan Asy-Syaikh Robi hafidzahullah, kira-kira Purwito berani ga mengatakan Asy-Syaikh Robi hafidzahullah sebagai penular syubhatnya Al-Halaby dan Al-Ma'riby? Ane ga yakin akh Purwito berani...wallahu a'lam.
4. Dari penjelasan di atas telah jelas bagi kita semua, bahwasanye Luqman Ba'abduh cs beserta para pemujanya memiliki manhaj Haddadiyyah terselubung yang dikemas dengan slogan "ikut ulama".
5. Berikut ringkasan kisah yang disebutkan oleh Asy-Syaikh Robi hafidzahullah ketika beliau membantah Falih Al-Harbiy (gembong Haddadiyyah):
Asy-Syaikh Robi hafidzahullah menghikayatkan:
-: «قول السائل للشيخ فالح: (جزاكم الله خيرا وأحسن الله إليكم، ثم يقول كذلك شيخنا من تأصيلاته العجيبة، فلما قلتُ له: (أنت قلت في شريط: أنا لستُ مُلزم بقوله -أي لست ملزم بقول عالِم- )؛ فقال لي: (لست ملزم بقوله، لست ملزم بقوله، لست ملزم بقوله).فأجاب الشَّيخ (فالح)-مقاطعًا-: عليه أن يُثبت، عليه أن يُثبت، عليه أن يُثبت أنه إمام الأئمَّة، وأنه عالِم مجتهد لا يَحكم إلا بالحق الذي يتعبَّد اللهَ به، ودلَّت عليه الحجَّة من الشَّرع وهو أهل .. وإلا فرُغم أنفِه ورُغم أنف غيرِه حتى لا يظنَّ أن هذه الكلمة موجَّهة له فقط أنه إن لَم يكن من العلماء يتَّبع العلماء ولا نقول حتى يقلِّد يسمِّيه هو ما شاء سَمَّاه تقليدًا أو سَمَّاه اتباعًا.... .فعلَّق الشَّيخ ربيع المدخلي على هذا الكلام قائلًا: «بل ما تدعو إليه هو التَّقليد الباطل لأنك تدعو إلى التَّقليد مَن لا يجوز له أن يُقلِّد، ولا سيَّما في الفتاوى الباطلة التي تُصدرها وتُلزم بها الناسَ ... .أتدري من القائل: لستُ مُلزمًا بقوله؟ إنه الأزهر الجزائري السلفي الذي يحمل شهادة جامعية ويدرِّس التوحيد والحديث -وغيرهما- على طريقة السَّلف.وهل تدري مَن هو العالم الذي يريد السَّائل أن يُلزم الأزهر بقوله؟ الجواب: إنه فالح الحربي .....فلما أبى تقليدَ فالح؛ حَمل عليه هذه الحملةَ الشعواء، وحَكم عليه بهذه الأحكام لماذا؟! لأنه لم يقلد فالحًا.ولقد فهمت -سابقًا- من هذا الكلام أن هذا العالِم الذي أبى الأزهرُ التزامَ قوله وتقليده هو فالح ... . إن القاعدة التي اعتمد عليها أزهر ليست قاعدة إبليسيَّة وإنما هي قاعدة إسلامية عظيمة وسلفية كريمة.وأخبِرْني: مَن مِن العلماء قال عن قاعدة (لا أقلِّد)-إذا قالها مَن لا يجب عليه التَّقليد-: أنها قاعدة باطلة، وأنها تدل على انحراف قائلها، وأنها قاعدة إبليسيَّة ...!؟!وانظر أخي: كيف لا يكتفي بإلزام الأزهر بفتواه الباطلة! بل تراه يوجه هذه الإهانة والوعيد لأمثاله إن لم يأخذوا بفتواه ....انظر أخي: لقد علم أن الأزهر يدرِّس فيجهِّله ويُلزمه بتقليد العلماء! ومن هم 2العلماء؟! إنهم فالح... ».
"Ucapan seorang penanya kepada Asy-Syaikh Falih : "Jazaakumullahu khairan wa ahsanallahu ilaikum, kemudian ia berkata wahai Syaikh kami berupa pondasi-pondasinya yang aneh, tatkala Aku berkata kepadanya: ("engkau berkata dalam (sebuah) kaset "aku tidak diharuskan (lastu mulzam) mengikuti pendapatnya" -maksudnya; aku tidak diharuskan mengikuti pendapat seorang alim-), maka ia pun berkata kepadaku:
( "aku tidak diharuskan (lastu mulzam) mengikuti pendapatnya", "aku tidak diharuskan (lastu mulzam) mengikuti pendapatnya", "aku tidak diharuskan (lastu mulzam) mengikuti pendapatnya"). Maka Asy-Syaikh Falih pun menjawab -memotong pembicaraan-: wajib baginya menetapkan, wajib baginya menetapkan, wajib baginya menetapkan bahwasanya ia adalah imamul a-immah(imamnya para imam), dan sungguh ia adalah seorang alim mujtahid, tidak ia menghukumi kecuali dengan al-haq yang ia beribadah kepada Allah dengannya, dan hujjah dari syariat menunjukkan hal tersebut dan ia adalah ahlinya.. jikantidak maka celakalah ia dan celakalah orang selainnya, jangan sampainia menyangka bahwa kalimat ini terarah hanya kepadanya, sesungguhnya jika ia bukan dari kalangan ulama maka (hendaknya) ia mengikuti ulama, dan kita tidak katakan agar ia bertaklid, terserah ia mau menamakannya sebagai taklid atau ia menamakannya sebagai ittiba'....
Kemudian Asy-Syaikh Robi hafidzahullah mengomentari ucapan di atas dengan ucapan beliau berikut ini:
"Bahkan apa yang engkau ajak itu adalah at-taklid al-bathil (taklid bathil), karena sungguh engkau telah menyeru untuk bertaklid kepada orang yang tidak boleh untuk ditaklid, terlebih lagi dalam fatwa-fatwa bathil yang engkau munculkan dan engkau mengharuskan manusia (berpendapat) dengannya...
Tahukah engkau siapa yang mengatakan "aku tidak diharuskan (lastu mulzaman) mengikuti pendapatnya"? Dia adalah Al-Azhar Al-Jazaairy As-Salafy yang telah membawa ijazah universitas dan ia mengajarkan tauhid dan hadits -dan selain keduanya- di atas jalan As-Salaf.
Dan apakah engkau tahu siapakah alim yang diingin oleh si penanya untuk mengharuskan Al-Azhar agar mengikuti pendapatnya? Jawabannya adalah Falih Al-Harby.....tatkala ia(Al-Azhar) enggan untuk taklid kepada Falih maka ia pun terbawa dengan bawaan yang kocar-kacir dan menghukuminya dengan hukum ini, kenapa? Karena ia tidak mau taklid kepada Falih.
Sungguh engkau telah ketahui -sebagaimana telah berlalu- dari ucapan ini bahwasanya alim yang Al-Azhar enggan berpegang dan bertaklid kepadanya adalah Falih.
Sesungguhnya kaidah yang dijadikan sandaran oleh Al-Azhar bukanlah kaidah iblisiyyah, bahkan ia adalah kaidah islamiyyah adzimah dan salafiyyah kariimah, dan beritakanlah kepadaku siapa dari kalangan ulama yang mengatakan bahwa kaidah "Aku tidak akan taklid" -jika diucapkan oleh orang yang tidak wajib taklid kepadanya- adalah kaidah yang bathil? Dan menunjukkan penyimpangan pengucapnya dan ia adalah kaidah iblisiyyah?
Lihatlah wahai akhiy, bagaimana ia(Falih) tidak puas dengan mengilzam(mengharuskan) Al-Azhar dengan fatwa bathilnya, bahkan engkau melihatnya sedang mengarahkan kehinaan dan ancaman ini kepada orang-orang yang semisalnya jika mereka tidak mengambil fatwanya..."
[Selesai dengan sedikit ringkasan, lihat selengkapnya pada Kitab Majmu'ul Kutub war Rasaa-il Asy-Syaikh Robi: 9/112-115].
Ane (Tedo Hartono) mengatakan:
Aduhai, alangkah serupanya sikap Luqmaniyyun dengan sikap Haddadiyyun, bukankah Luqman Ba'abduh dan yang bersamanya suka mengilzam(mengharuskan) orang lain untuk mengikuti fatwa yang cocok dengan hawa nafsu mereka? Aduhai kiranya Asy-Syaikh Robi hafidzahullah mengetahui hakekat sikap Luqman Ba'abduh wa man ma'ah yang suka mengilzam orang lain dengan selain Al-Quran & As-Sunnah!
Kesimpulan:
Dari penjelasan di atas, apakah Purwito masih ingin konsisten dengan cara-cara busuknya? Jika Purwito mengatakan "iya", bererti ia telah mencela Asy-Syaikh Robi hafidzahullah yang juga pernah menggunakan kalimat "laa yulzimuni" dan hendaknya dia bertaubat dari perbuatannya dan mengumumkannya, namun jika Purwito mengatakan "tidak", bererti Purwito adalah seorang pengekor hawa nafsu yang memang gemar menjatuhkan dan menelanjangi dai salafiy dan gemar menimbulkan permusuhan di kalangan Salafiyyun demi memuaskan hawa nafsunya sekaligus menguntungkan majikannya Mr. Luqman Ba'abduh.
Ikhwaniy fillah,
Demikianlah akibatnya jika seorang berani berbicara tanpa ilmu, sok mentahdzir tanpa mengetahui dan mempelajari kaidah-kaidah dalam Islam. Kedzoliman Purwito ini bukanlah sesuatu yg aneh, krn perbuatan yg serupa juga telah dialamatkan kpd Al-Ustadz Dzulqornain, Jafar Shalih, Abdul Mu'thi Al-Meidani, Abdul Barr, Sofyan Ruray dll hafidzahumullah, yang pada intinya adalah ingin menjatuhkan dan membunuh karakter para dai tersebut, caranya dengan mencari celah -sekecil apapun- dari ucapan para dai tersebut, untuk digunakan sebagai senjata "tumpul" menyerang dan membunuh karakter mrk. Warisan laskar jihad yg msh terpelihara dgn baik.
Tentu para pembaca masih inget dgn kasus "hukum karma" yg secara dzolim Purwito seenaknya memvonis Al-Ustadz Dzulqornain memiliki akidah hindu dst. Padahal bukan itu yg diinginkan oleh Al-Ustadz Dzulqornain, tapi karena Purwito adalah jagoan dlm memutarbalikkan fakta dan memotong ucapan org lain, maka ia pun berhasil mencoreng nama baik Al-Ustadz Dzulqornain, padahal jawaban Ustadz Askary (Balikpapan) tentang "hukum karma" pun tidak jauh beda dengan makna dari jawaban Al-Ustadz Dzulqornain, simak di sini: http://
Semoga Allah mengembalikannya kpd jalan yg lurus.
E. Purwito berceloteh:
Ketika salah seorang dari mereka menyelisihi al-haq maka tidak akan pernah rujuk dari penyelisihan ini meskipun besar.Meskipun sikap dan prinsip mereka sangatlah buruk, meskipun untuk membela diri atau membela ahli bid’ah dan penyesat umat dengan cara kebatilan.Meskipun berkonsekuensi pula mencela ahlussunnah dengan kebatilan dan kedustaan. Juga meskipun ada seorang salafi yang mendatangkan dalil dan bukti untuk suatu permasalahan. Maka mereka tidak akan menerimanya, bahkan akan menolaknya dengan tameng ini, yaitu “Kamu jangan mengharuskan kepadaku”.
Bantahan:
Kalimat hiperbola memang selalu dimuntahkan oleh Purwito dalam banyak tulisannya, menghubung-hubungkan & mengaitkan sesuatu yg tidak ada kaitannya dgn substansi permasalahan adalah sifat tercela yg dimiliki Purwito.
Ahli bid'ah mana yg dibela oleh Al-Ustadz Ibnu Yunus &Al-Ustadz Kholiful Hadi? Penyesat umat yg mana? Bukankah engkau wahai saudara Purwito adalah penyesat umat? Ga usah ngigau ye, walaupun dai-dai yg kalian benci itu rujuk, toh tetep aja tuh dikuntit & dibeberkan aib2nya serta mengharuskan manusia mngikuti pndpt kalian seperti yg dilakukan oleh Usamah Mahri de el el terhadap ikhwan2 di Sumatera.
Ucapan Purwito di atas sekaligus pengakuan bahwa memang dirinya suka memaksakan pendapat, demkian pula majikannya Mr. Luqman Ba'abduh dkk.
Wahai Purwito!
Tatkala Luqman Ba'abduh menyelishi Al-Haq, kenapa engkau diam saja?
Ketika Luqman Ba'abduh menyelisihi fatwa ulama dan mengkhianatinya kenapa engkau terdiam? Bukankah kalian berkoar-koar agar menghormati ulama?
Ketika Mukhtar Iben Rifai mencela Asy-Syaikh 'Ubaid hafidzahullah, knp engkau terdiam? Bukankah kalian berkoar-koar agar menghormati ulama?
Ketika Luqman Ba'abduh meremehkan Asy-Syaikh Utsman As-Salimiy dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Mar'iy hafidzahumallah, knp engkau terdiam? Bukankah kalian berkoar-koar agar menghormati ulama?
Ketika Ustadz Afifuddin mengakui kesalahan-kesalahan Luqman Ba'abduh di hadapan seorang Ustadz yg bermukim di Bali, knp engkau terdiam? Siapa yg di atas Al-Haq? Luqman atau Afifuddin? Tanyakan kpd Ustadz Afifuddin, pernahkah dia mengakui kesalahan Luqman Ba'abduh & tdk berani menjelaskannya krn melihat byknya pendukung Luqman Ba'abduh?
Tatkala Luqman Ba'abduh cs mengkhinati isi surat perjanjian tahun 2005, kenapa engkau terdiam? Bukankah isi perjanjian itu atas pengetahuan ulama?
Apakah karena kalian takut terhadap Luqman Ba'abduh? Ataukah krn sikap ta'ashshub yg tlh menutup mata kalian & membungkam mulut kalian?
Walaupun kedzoliman dan makar demi makar kalian lancarkan utk menghalang-halangi manusia dari mngambil manfaat dr dakwah kami, toh kami -insyaAllah- tetap tegar mengajak manusia ke jalan Allah, mengajak mereka mentauhid Allah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya.
Semoga Allah Subhaanahu wa Ta'ala memberikan kesabaran kpd kami dlm perjalanan ini,& semoga taufiq dan hidayahNya senanyiasa tercurah kpd kita semua dan menunjuki kita kpd kebenaran dan bersabar diatasnya.
Abu Abdillah Tedo Hartono,
MM, MAS-PMH,
22 Oktober 2014



0 komentar:
Posting Komentar