The Strange Man Is Naked In The Mirror: "Purwito si Manusia Aneh Telanjang Depan Cermin"
(Mengenal kebiasaan Buruk Purwito Dalam Situs Setan "tukpencarialhaq")
Ke arah cermin telunjukmu sambil menuding..
Tanpa kau sadari dirimu sedang telanjang..
Karena dirimu sering berprasangka miring..
Seraya berkata "fulan" sedang telanjang
Tanpa kau sadari dirimu sedang telanjang..
Karena dirimu sering berprasangka miring..
Seraya berkata "fulan" sedang telanjang
Sampai kapan kau terus menggunjing..
Aib sendiri tidak kau pandang..
Janganlah kau jadi seperti anjing..
Tetap menggonggong walau kami diam atau menendang..
Aib sendiri tidak kau pandang..
Janganlah kau jadi seperti anjing..
Tetap menggonggong walau kami diam atau menendang..
Kekeliruan orang lain semakin diperuncing
Aib tuanmu sendiri tidak kau pajang,
Seandainya kau ingin membanding..
Niscaya kau dapati penyesalan yang panjang...
Aib tuanmu sendiri tidak kau pajang,
Seandainya kau ingin membanding..
Niscaya kau dapati penyesalan yang panjang...
Tak tahu menganyam, pandan disalahkan.
Purwito yang telanjang, orang lain yang disalahkan...
Purwito yang telanjang, orang lain yang disalahkan...
Sebenarnya menanggapi tulisan Purwito si Manusia Aneh ini tidak begitu menguntungkan bagi diri Ane pribadi, soalnya artikel-artikelnya selalu tidak nyambung dan terkesan dipaksakan untuk mencocoki hawa nafsunya demi menjatuhkan kredibilitas person yang ia benci. Namun dibalik semua itu, Ane terpanggil untuk menjelaskan kepada kaum muslimin tentang bahaya si Manusia Aneh bernama Purwito ini, seorang awwam yang jahil murokkab sok alim mengurusi problematika dakwah Salafiyyah di Indonesia. Walhasil, banyak keanehan, kengawuran, kepincangan dalam ber-"istinbath", kata-kata kasar, tuduhan, dan lain-lainnya yang menunjukkan dangkalnya keilmuan dan rapuhnya pondasi ilmu dasar dalam artikel-artikel saudara Purwito si Manusia Aneh ini.
Di antara kebiasan buruk Akh Purwito dalam artikelnya adalah sebagai berikut:
1) Memotong ucapan orang lain kemudian menyimpulkan sesuai keinginan hawa nafsunya
2) Terlalu mudah memvonis dan memberi gelar-gelar buruk.
3) Standar ganda dalam menyikapi sebuah permasalahan.
4) Mengungkit kisah(fitnah) lama.
Empat point di atas mewarnai background artikel yang dimuat dalam situs tukpencarialhaq.
Sebagai contohnya adalah artikel dalam link berikut ini:
http://tukpencarialhaq.com/2014/04/27/the-tedo-missing-link-tedo-hartono-telanjang-bulat-di-panggung-sejarah/
http://tukpencarialhaq.com/2014/04/27/the-tedo-missing-link-tedo-hartono-telanjang-bulat-di-panggung-sejarah/
Inti dari isi artikel dalam link di atas mengandung 3 point:
1) Tuduhan Pirwito bahwasanya Ane telah berdusta terkait berita tuduhan Luqman Ba'abduh atas Al-Ustadz Dzul Akmal hafidzahullah.
2) Tuduhan Purwito bahwasanya Ane adalah "Mujaahir" (pelaku maksiat terang-terangan)
3) Tuduhan Purwito bahwasanya Ane telah memotong ucapan Luqman Ba'abduh yang berisi celaannya terhadap ulama.
Sehingga dengan artikel itu, sebagian pemuja Purwito dari kalangan pengekor Luqman Ba'abduh bergembira dan puas walaupun mereka tidak mengetahui hakikat yang sebenarnya. Sikap taklid buta dan gegabah telah menutupi mata hati mereka dari melihat kebenaran. Mereka menyangka pujaan mereka (Purwito) telah menelanjangi orang yang telah membantahnya, padahal mereka hanya tertipu dengan suara pujaannya yang sedang "telanjang menghadap cermin" sambil mengatakan "fulan telanjang bulat".
Dengan memohon taufiq dan pertolongan dari Allah Subhaanahu wa Ta'aala, Ane (Tedo Hartono) menjawab tuduhan tersebut sebagai berikut:
Jawaban atas tuduhan point 1 sekaligus tuduhan point 2:
Dalam gambar screenshoot pertama dalam isi artikelnya, Purwito berusaha mengesankan kepada para pembaca bahwasanya Ane telah berdusta terkait kabar yang pernah tersebar dari Al-Ustadz Dzul Akmal.
Purwito berkata:
" Gambar 1. Screenshot celakanya Tedo itu…(Siapa Takut?! Allahul musta’an)
Apakah si pendusta ini, Tedo Hartono merasa malu dengan publisitas aibnya sendiri yang dilaunchingnya ke publik?Ataukah masih ada yang hidup di alam mimpi dan khayalan….KEJAHATAN MUJAHIRIN dimanipulasi sebagai kejahatan intel-intel yang sukanya mencari-cari aib yang tersembunyi demi tujuannya untuk menipu daya manusia-manusia yang lemah akal dan ingatannya?Bukankah semestinya kalian bergembira dan berterimakasih karena ada saudara kalian yang membantu kalian agar publik yang lainnya mengetahui status yang SENGAJA KALIAN SHARE kepada umat? Duhai bukankah kalian membuat status (aib, ini pengakuan jujur kalian sendiri) ke publik agar dibaca oleh publik? Lalu kenapa saudara-saudara kalian itu yang justru kalian salahkan dan kambinghitamkan? Allahul musta’an, ini adalah kegilaan.Entah sudah berapa kali mesti mengulang tema Mujahirin lagi karena banyaknya manipulasi…tetapi sifat pelupa kadang menjadikan bermanfaat jika kita ulang lagi…agar yang tertipu menjadi sadar…agar yang menipu menjadi tahu bahwa tipuannya tak laku di sisi orang yang menghargai ilmu daripada mengedepankan hawa nafsu…
" Gambar 1. Screenshot celakanya Tedo itu…(Siapa Takut?! Allahul musta’an)
Apakah si pendusta ini, Tedo Hartono merasa malu dengan publisitas aibnya sendiri yang dilaunchingnya ke publik?Ataukah masih ada yang hidup di alam mimpi dan khayalan….KEJAHATAN MUJAHIRIN dimanipulasi sebagai kejahatan intel-intel yang sukanya mencari-cari aib yang tersembunyi demi tujuannya untuk menipu daya manusia-manusia yang lemah akal dan ingatannya?Bukankah semestinya kalian bergembira dan berterimakasih karena ada saudara kalian yang membantu kalian agar publik yang lainnya mengetahui status yang SENGAJA KALIAN SHARE kepada umat? Duhai bukankah kalian membuat status (aib, ini pengakuan jujur kalian sendiri) ke publik agar dibaca oleh publik? Lalu kenapa saudara-saudara kalian itu yang justru kalian salahkan dan kambinghitamkan? Allahul musta’an, ini adalah kegilaan.Entah sudah berapa kali mesti mengulang tema Mujahirin lagi karena banyaknya manipulasi…tetapi sifat pelupa kadang menjadikan bermanfaat jika kita ulang lagi…agar yang tertipu menjadi sadar…agar yang menipu menjadi tahu bahwa tipuannya tak laku di sisi orang yang menghargai ilmu daripada mengedepankan hawa nafsu…
[Kemudian setelah itu Purwito membawakan beberapa dalil walaupun ga nyambung dengan permasalahan]
Bantahan:
Foto Screenshootnya ga nyambung dengan penjelasannya, justru Purwito yang menyebarkan aib itu ke publik yang sebelumnya berada di grup FB khusus yang bernama "Ta'zhimussunnah Indonesia". (lihat foto screenshoot bertanda "A" di bawah).
Foto Screenshootnya ga nyambung dengan penjelasannya, justru Purwito yang menyebarkan aib itu ke publik yang sebelumnya berada di grup FB khusus yang bernama "Ta'zhimussunnah Indonesia". (lihat foto screenshoot bertanda "A" di bawah).
Purwito berkata lagi:
" Gambar 2. Screenshot Mujahirin minta diHARGAi sebagai orang yang dicari-cari aibnya yang tersembunyi. Situs pelita-sunnah adalah situs yang tidak jelas siapa penanggung jawabnya.
" Gambar 2. Screenshot Mujahirin minta diHARGAi sebagai orang yang dicari-cari aibnya yang tersembunyi. Situs pelita-sunnah adalah situs yang tidak jelas siapa penanggung jawabnya.
Bantahan:
Sungguh kekejian tuduhan Purwito ini sangat keterlaluan, bukankah definisi "tajassus" itu mirip dan selaras dengan ucapan/pengakuan Purwito sendiri yang berbunyi:
Sungguh kekejian tuduhan Purwito ini sangat keterlaluan, bukankah definisi "tajassus" itu mirip dan selaras dengan ucapan/pengakuan Purwito sendiri yang berbunyi:
"Sungguh sumbangsih kalian semuanya telah membuat mereka ini tidak bisa tidur nyenyak karena merasa dunia kejahatan mereka terus dipantau melalui CCTV sehingga berakibat mereka ini menceracau membuta babi tanpa kendali."?
Purwito masih saja menggunakan trik liciknya dengan memotong potongan ucapan orang lain sehingga bisa disesuaikan dengan hawa nafsunya kemudian disimpulkan secara bathil. Definisi tajassus yang Ane (Tedo Hartono) sebutkan itu dalam rangka membantah ucapannya di atas, ternyata Purwito berani memutarbalikkan fakta walaupun dengan terpaksa.
Di sisi lain, dosa apa yang telah kami lakukan secara terang-terangan sehingga Purwito dengan gagah berani memvonis kami sebagai "Mujahirin" (pelaku maksiat terang-terangan)?
Apakah membantah orang awam yang ekstrem dan sok berilmu seperti Purwito dianggap dosa? Bukankah perbuatan Purwito yang mengintai dalam rangka menjatuhkan kredibilitas duat Salafy adalah perbuatan dosa? Bukankah Purwito sendiri termasuk golongan "Mujahirin" yang harus diluruskan dan dinasehati secara terbuka pula? Ataukah hanya Purwito saja yang boleh melakukan hal itu sedangkan yang lain tidak berhak? (Stop standar ganda!)
Apakah membantah orang awam yang ekstrem dan sok berilmu seperti Purwito dianggap dosa? Bukankah perbuatan Purwito yang mengintai dalam rangka menjatuhkan kredibilitas duat Salafy adalah perbuatan dosa? Bukankah Purwito sendiri termasuk golongan "Mujahirin" yang harus diluruskan dan dinasehati secara terbuka pula? Ataukah hanya Purwito saja yang boleh melakukan hal itu sedangkan yang lain tidak berhak? (Stop standar ganda!)
Allah Ta’ala berfirman:لاَ يُحِبُّ اللهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلاَّ مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا ﴿١٤۸﴾ [النساء
[Artinya: Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya, dan Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS An Nisaa: 148)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ وَإِنَّ مِنْ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَيَقُولَ يَا فُلَانُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ
"Setiap umatku akan dimaafkan kecuali mujahirin (pelaku maksiat dengan terang-terangan). Dan termasuk mujaharah (berbuat maksiat dengan terang-terangan), seseorang melakukan satu perbuatan pada malam hari, kemudian dia memasuki waktu pagi dan Allah menutupi perbuatannya itu, lalu ia mengatakan, “Wahai fulan, semalam aku melakukan ini dan itu”. Dia tidur semalam dan Allah menutupi perbuatannya, lalu ketika memasuki waktu pagi ia membuka tabir Allah.” (Bukhari dan Muslim)
Disebutkan dalam Fathul Bari, “Al Mujahir” adalah istilah bagi orang yang terang-terangan berbuat dosa, menampakkan kemaksiatannya dan membuka aib (dosa) sendiri yang telah ditutup oleh Allah Ta’ala dengan cara menceritakannya kepada orang lain. Orang yang berterang-terangan dengan kemaksiatannya itu termasuk orang gila, dan kegilaan itu tercela menurut syara’ dan adat kebiasaan. Maka orang yang membeberkan kemaksiatannya berarti melakukan dua pelanggaran sekaligus, yaitu menampakkan kemaksiatan dan bercampurnya dengan kegilaan.Ibnu Baththal rahimahullah berkata: “Membeberkan atau melakukan maksiat terang-terangan itu berarti meremehkan hak Allah, RasulNya, dan umat yang shalih, melakukan maksiat terang-terangan termasuk sikap keras kepala mereka. Didalam merahasiakannya itu berarti ia terselamatkan dari sikap meremehkan agama, karena kemaksiatan itu menjadikan pelakunya hina.” Imam Nawawi rahimahullah menyatakan bahwa orang yang melakukan kefasikan atau bid’ah secara terang-terangan itu, maka boleh disebut-sebut atau dibeberkan apa yang ia lakukan dengan terang-terangan itu, bukan apa yang dilakukannya secara tidak terang-terangan. (Fathul Bari, juz 13 hal 98-99)
Ibnul Qoyyim berkata bahwa orang-orang yang berbuat dosa secara terus-terang itu telah keluar dari pemaafan Allah, dan mereka yang menceritakan kemaksiatan-kemaksiatan yang mereka lakukan, hal ini dapat menggerakkan hati si pendengar untuk berbuat yang serupa. Hal ini akan menyebarkan kerusakan yang tidak ada yang mengetahui sampai dimana kecuali oleh Allah. (I‘lamul Muwaqi’in juz 3, halaman 153).
Ternyata Purwitolah yang sedang bermimpi dan menghayal, lemahnya akal dan ingatannya membuatnya lupa kalau Al-Ustadz Dzul Akmal sudah bertaubat dari berita yang tersebar itu, bahkan dengan jelas tertera dalam screenshoot berwarna hijau yang Purwito upload sendiri, dikarenakan butanya penglihatan dan hati membuat Purwito tidak mampu melihatnya dan berusaha menggarisbawahi (dengan warna merah)potongan pernyataan Al-Ustadz Dzul Akmal. (lihat foto screenshoot bertanda "A" di bawah).
Mari kita lihat pernyataan Al-Ustadz Dzul Akmal:
"Telah dinukil kpd sebagian ikhwah dari syaikh kami orang tua kami Assyaikh Robee' bahwa Al akh Assyaikh Luqman ba'abduh mengkhabarkan kpd beliau bahwa saya menerima harta (uang) dari Ihya'ut turots, dan sungguh saya telah menukil khabar ini kpd sebagian ikhwah, dan telah tersebar khabar ini, dan sungguh telah jelas bagi saya bahwa khabar ini bathil dan bahwa yg menukil dari syaikh Robee' telah keliru dan mengada-ada, maka saya meminta ampun kpd Allah dan saya bertaubat kpdNya dari tersebarnya khabar yg bathil ini dan saya memberi uzur (maaf) kpd saudara saya Assyaikh Luqman.... Semoga Allah memberi taufiq". (Selesai penukilan)
Jika kita perhatikan dengan seksama redaksi pernyataan rujuk Al-Ustadz Dzul Akmal di atas, beliau telah mengakui kesalahan beliau dan memang benar berita itu ia sendiri telah nukilkan kepada sebagian ikhwah. Sehingga apa yang pernah Ane sebutkan tentang hal itu memang benar adanya. Ane mendapatkan berita itu dari salah seorang ikhwan yang mengirimkan berita itu melalui inbox akun FB Ane (Tedo Hartono) sebelum adanya surat pernyataan taubat Al-Ustadz Dzul Akmal hafidzahullah yang ketika itu masih di Arab Saudi.
Anehnya, Purwito tidak menggubris sedikitpun komentar Muhammad Raihan yang berbunyi: "ini dari ust akmal. Yg dr asy syaikh Luqman Ba'abduh belum ada klarifikasi".(lihat foto screenshoot bertanda "A" di bawah).
Kalau Al-Ustadz Dzul Akmal hafidzahullah melakukan klarifikasi, kenapa Luqman Ba'abduh tidak melakukannya? Bisa jadi Al-Ustadz Dzuk Akmal hafidzahullah "tanaazul" (mengalah) agar fitnah ini segera selesai, ternyata Purwito senang bercokol dalam fitnah dan menjadikan klarifikasi itu sebagai alibi untuk mendiskreditkan orang yang ia benci? Entah sampai kapan Purwito seperti itu, semoga saja dia cepat bertaubat.
Kalau Al-Ustadz Dzul Akmal hafidzahullah melakukan klarifikasi, kenapa Luqman Ba'abduh tidak melakukannya? Bisa jadi Al-Ustadz Dzuk Akmal hafidzahullah "tanaazul" (mengalah) agar fitnah ini segera selesai, ternyata Purwito senang bercokol dalam fitnah dan menjadikan klarifikasi itu sebagai alibi untuk mendiskreditkan orang yang ia benci? Entah sampai kapan Purwito seperti itu, semoga saja dia cepat bertaubat.
Perlu juga Ane tegaskan, Ane tidak pernah membuat "status" tentang berita itu, Purwito sengaja memanipulasi dan mengesankan kalau Ane (Tedo Hartono) pernah membuat "status" terkait berita itu. Oleh karena itu, agar kebohongan Purwito tidak ketahuan, ia sengaja memotong "foto profil" akun yang membuat status yang berisi "berita" itu, apakah Purwito sudah buta warna ataukah sengaja memanipulasi? (Lihat foto screenshoot bertanda "B" di bawah)
Purwito tidak memiliki cara lain melainkan manipulasi dan mengungkit kembali kisah (fitnah) lama yang Al-Ustadz Dzul Akmal hafidzahullah telah bertaubat darinya, bukankah Purwito sendiri yang telah mengupload berita pernyataan taubat Al-Ustadz Dzul Akmal dalam situsnya?, lihat di sini:
http://tukpencarialhaq.com/2014/04/21/allahu-akbar-penegasan-telah-rujuknya-ustadz-dzul-akmal-nasehat-indah-untuk-menjaga-tali-persatuan-diantara-salafiyun/
http://tukpencarialhaq.com/2014/04/21/allahu-akbar-penegasan-telah-rujuknya-ustadz-dzul-akmal-nasehat-indah-untuk-menjaga-tali-persatuan-diantara-salafiyun/
Kebiasaan buruk seperti ini sama dengan Luqman Ba'abduh yang telah mengungkit kisah (fitnah) lama yang sudah pernah terjadi ishlah didalamnya, kita ambil contoh kasus dalam dauroh Luqman Ba'abduh yang berjudul "Dosa-dosa terhadap ilmu dan ulama", ketika ia berusaha memvonis Al-Ustadz Dzulqornain hafidzahullah sebagai pendusta, Luqman Ba'abduh berkata:
"Bagi yang ingin reuni dan memurojah, silahkan dengarkan kembali kaset Al-Ustadz Askary yang berjudul silsilat Al-Kadzdzaaabiin, iya, silsila; sejwrah para pendusta disebutkan di sana perowi-perowi pendusta, terus sampai zaman ini adalah Dulqornain bin Muhammad Sanusi" (selesai penukilan dari rekaman sesi kedua menit ke 11:31- 11:58)
Selengkapnya bisa diengarkan dan didownload di sini:http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-dosa-dosa-terhadap-ilmu-dan-ulama-bersama-al-ustadz-luqman-bin-muhammad-baabduh-hafidzohulloh/
Selengkapnya bisa diengarkan dan didownload di sini:http://ahlussunnahslipi.com/kajian-ilmiyyah-dosa-dosa-terhadap-ilmu-dan-ulama-bersama-al-ustadz-luqman-bin-muhammad-baabduh-hafidzohulloh/
Kenapa harus kembali lagi ke kaset "Silsilah Al-Kadzdzaabiin"? Bukankah sudah terjadi ishlah dan semuanya telah rujuk dari berbagai bentuk tuduhan? Ada apa dengan Luqman Ba'abduh? Apakah dia lupa? Kalau lupa,Mari kita lihat dan ingatkan kembali cuplikan redaksi pernyataan yang telah disepakati bersama dalam ishlah pada tahun 2005 lalu:
3. وأما ما يتعلق بقضية إتهام الأستاذ الفاضل ذو القرنين وأخيه الأستاذ الفاضل خضر بالتساهل في تعاملهما مع مؤسسة الحرمين , فقد اتفقنا جميعا على ما يلي:أولا/ أقر الإخوة (الأستاذ محمد السويد والأستاذ لقمان با عبده والأستاذ أسامة والأستاذ عسكري ومن معهم) بأن هذا الإتهام للأستاذ الفاضل ذو القرنين وأخيه الأستاذ الفاضل خضر ليس فيه دليل واضح , وإنما حصل هذا بسبب بعض المواقف والتصرفات التي لم نجد لها جوابا . وقد أجابا عنها بما ظهر لنا أنها تبرءة لهما , وأننا نتراجع عن كل ما صدر منا في هذا الموضوع . ونقر بأن ما نشر من بعضنا في الأشرطة والمجالس من الإتهام والتكذيب وما هو بمعناه أنه من الخطأ الذي نتراجع عنه ونرجو من الجميع أن لا يعودوا لمثله لما في ذلك من سبب إيجاد التدابر والتنافر والفرقة وحصول الشر في دعوتنا .ثانيا/ كما يقر الإخوة (الأستاذ ذو القرنين والأستاذ خضر) بأن ما صدر منهما ونشر في الأشرطة والمجالس من الإتهام والتكذيب وما هو بمعناه للأستاذ الفاضل عسكري أنه من الخطأ الذي نتراجع عنه ونرجو من الجميع أن لا يعودوا لمثله لما في ذلك من سبب إيجاد التدابر والتنافر والفرقة وحصول الشر في دعوتنا .
"3. Adapun yang terkait dengan kasus tuduhan atas Al-Ustadz Al-Faadhil Dzulqornain dan saudaranya Al-Ustadz Al-Faadhil Khidir tentang bergampangan dalam bermuamalah dengan muassah Al-Haramain, maka kami semua telah bersepakat atas perkara berikut:
Pertama: Para ikhwah telah mengakui (Al-Ustadz Muhammad As-Sewed, Al-Usyadz Luqman Ba'abduh, Al-Ustadz Usamah, Al-Ustadz Askary dan yang bersama dengan mereka); bahwasanya tuduhan terhadap Al-Ustadz Al-Faadhil Dzulqornain dan saudaranya Al-Ustadz Al-Faadhil Khidir ini tidak ada padanya dalil yang jelas, dan hal ini terjadi disebabkan sebagian sikap-sikap dan perbuatan-perbuatan yang kami tidak menemukan jawabannya. Dan keduanya (Al-Ustadz Dzulqornain dan Al-Ustadz Khidir) telah menjawabnya dengan jawaban yang tampak bagi kami bahwasanya itu merupakan bentuk berlepas diri bagi mereka berdua, dan sesungguhnya kami rujuk dari seluruh apa yang muncul dari kami dalam perkara ini. Dan kami menetapkan bahwasanya apa yang disebarkan dari sebagian dsri kami dalam kaset-kaset dan majlis-majlis berupa tuduhan dan pendustaan dan yang semakna dengannya adalah kesalahan yang kami rujuk darinya dan kami berharap dari seluruh (pihak) agar tidak kembali seperti ini, dikarenakan didalamnya terdapat sebab adanya saling membelakangi(bermusuhan), berjauhan dan perpecahan dan terjadinya kejelekan pada dakwah kita.
Kedua: Para ikhwah telah mengakui (Al-Ustadz Dzulqornain dan Al-Ustsdz Khidir) bahwasanya apa yang muncul dari keduanya dan disebarkan dalam kaset-kaset dan majlis-majlis beruoa tuduhan dan pendustaan dan yang semakna dengannya terhadap Al-Ustadz Al-Faadhil Askary adalah kesalahan yang kami rujik darinya dan kami berharap dari seluruh (pihak) agar tidak kembali seperti ini, dikarenakan didalamnya terdapat sebab adanya saling membelakangi(bermusuhan), berjauhan dan perpecahan dan terjadinya kejelekan pada dakwah kita."
Selengkapnya, dipersilakan menyimak kembali naskah rujuk tersebut, semoga menjadi pelajaran dan obat bagi mereka yang lupa:
http://pelita-sunnah.blogspot.com/2013/12/naskah-ishlah-dai2-salaf-tahun-2005-m.html
http://pelita-sunnah.blogspot.com/2013/12/naskah-ishlah-dai2-salaf-tahun-2005-m.html
Mengungkit fitnah yang telah berlalu merupakan sikap yang menyelisihi manhaj salaf, Ays-Syaikh DR. Muhammad bin Abdul Wahhaab Al-'Aqiil hafidzahullah berkata:
"Di antara sikap-sikap yang menyelisihimanhaj As-Salaf As-Shalih rahimahumullah dalam fitnah, adalah apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang berafiliasi kepada Islam berupa menghidupkan kembali fitnah-fitnah yang telah berlalu dan memaparkannya dengan cara dusta lagi keliru, untuk meraih simpati manusia dan pengangkatan mereka (terhadap) salah satu dari pihak yang berselisih dan perendahan terhadap pihak yang lain, mereka menyangka bahwasanya dengan amalan berbahaya ini mereka (dapat) menyatukan manusia dan menolong pihak yang dizalimi, padahal dengan ini mereka pada hakikatnya memecah-belah ummat, dan menambah fitnah-fitnah dan menghidupkannya (kembali), dan mereka menghasut hati-hati orang awwam terhadap orang-orang terdahulu yang berlepas diri dari seluruh kedustaan-kedustaan yang di rekayasa oleh para pendusta ini." (Al-Fitnah wa Mauqiful Muslim Minha, halaman 214)
Inilah akibat jika seorang awwam ingin ikut campur berbicara pada masalah yang bukan kapasitasnya berbicara di situ. Allahul Musta'aan.
Jawaban atas tuduhan point ke 3:
Dalam gambar screenshoot ke 4 dalam isi artikel tersebut, Purwito kembali memainkan tipu muslihatnya dan mengesankan kepada para pembaca bahwasanya Ane telah memotong ucapan Luqman Ba'abduh, benarkah demikian? Siapa sebenarnya yang suka memotong-motong ucapan orang lain kemudian mencocokkannya dengan hawa nafsunya? Mari kita simak berikut ini:
Purwito berkata:
" Gambar 4. Screenshot Parodi Satir yang dibuat Bang Tedo, Dosa-Dosa Luqman terhadap Ilmu dan Ulama.
Sekarang kita simak dan kita rangkai puzzle-puzzle yang sengaja “tidak dipasang” oleh Bang Tedo hadahullah.Menyambung mata rantai fakta yang diputus Mas Tedo agar bisa memahami tipuannya dengan seutuh-utuhnya…Padanya berisi:-Persaksian Al Ustadz Muhammad Naim tentang sumber rekaman (siapa yang merekamnya)-Rekaman Laporan Al Ustadz Dzulqarnain kepada Asy Syaikh Abdullah Al Mar’i & Asy Syaikh Utsman As Salimi hafizhahumallah-Pengaruh laporan tersebut pada Al Ustadz Muhammad Barmim-Ucapan Al Ustadz Luqman dalam konteks yang seutuhnya dari sebagian kecil potongan yang dipublikasikan oleh saudara Tedo Hartono agar kita bisa memahami permasalahan seutuhnyaSilakan disimak…semoga bermanfaat"
Sekarang kita simak dan kita rangkai puzzle-puzzle yang sengaja “tidak dipasang” oleh Bang Tedo hadahullah.Menyambung mata rantai fakta yang diputus Mas Tedo agar bisa memahami tipuannya dengan seutuh-utuhnya…Padanya berisi:-Persaksian Al Ustadz Muhammad Naim tentang sumber rekaman (siapa yang merekamnya)-Rekaman Laporan Al Ustadz Dzulqarnain kepada Asy Syaikh Abdullah Al Mar’i & Asy Syaikh Utsman As Salimi hafizhahumallah-Pengaruh laporan tersebut pada Al Ustadz Muhammad Barmim-Ucapan Al Ustadz Luqman dalam konteks yang seutuhnya dari sebagian kecil potongan yang dipublikasikan oleh saudara Tedo Hartono agar kita bisa memahami permasalahan seutuhnyaSilakan disimak…semoga bermanfaat"
Bantahan:
Siapa sebenarnya yang sengaja tidak memasang "puzzle"? Sekarang mari kita simak dan kita rangkai puzzle yang sengaja "tidak dipasang" oleh Purwito hadahullah. Menyambung mata rantai fakta yang diputus Purwito agar bisa memahami tipuannya dengan seutuh-utuhnya.
Kronologi asli dari komentar Ane yang berbunyi:
----------------------------------------->
" Luqman Ba'abduh berkata pada Daurohnya yang berjudul "Dosa-Dosa terhadap ilmu dan Ulama" di Slipi, sebagai berikut :
" Luqman Ba'abduh berkata pada Daurohnya yang berjudul "Dosa-Dosa terhadap ilmu dan Ulama" di Slipi, sebagai berikut :
Ketika Luqman Ba'abduh menjelaskan tentang dialog yang terjadi di Bandara antara Asatidzah yang didalamnya hadir pula Asy-Syaikh Utsman As-Saalimiy dan Asy-Syaikj Abdullah Al-Mar'iy hafidzshumallahu.
Pada sesi kedua menit ke 27:25 detik ia mengatakan:
"Syaikh yang satunya mengatakan "iya!, tentang Ikhwanul Muslimin cukup 15 menit, seperempat jam cukup! Ga perlu panjang-panjang", kepancing...kebawa,
"Syaikh yang satunya mengatakan "iya!, tentang Ikhwanul Muslimin cukup 15 menit, seperempat jam cukup! Ga perlu panjang-panjang", kepancing...kebawa,
(kemudian dengan lantangnya Luqman Ba'abduh megatakan)
Ya!, Al-Haq yuqool, Al-Haq itu harus disampaikan supaya syubhat itu tidak terus menabrak sana menabrak sini.
Saya katakan, ini jawaban yang "SALAH", "SALAH", "SALAH"".
Komentar Ane (Tedo Hartono):
Inilah sifat berani dan dosa terhadap ilmu dan ulama, apakah Luqman Ba'abduh ini merasa lebih pinter dari 2 Syaikh itu? Subhaanallah!
Kedua Syaikh itu saja bisa disalahkan oleh Luqman Ba'abduh padahal dia ga hadir di jalsah tersebut! Apalagi kalau hanya sekedar Ustadz?
Apa prestasi Luqman Ba'abduh ketika belajar di Yaman dahulu?
Inilah sifat berani dan dosa terhadap ilmu dan ulama, apakah Luqman Ba'abduh ini merasa lebih pinter dari 2 Syaikh itu? Subhaanallah!
Kedua Syaikh itu saja bisa disalahkan oleh Luqman Ba'abduh padahal dia ga hadir di jalsah tersebut! Apalagi kalau hanya sekedar Ustadz?
Apa prestasi Luqman Ba'abduh ketika belajar di Yaman dahulu?
Kemudian Luqman berkata lagi pada menit ke 29:18 detik:
"Maka kita katakan baarakallahu fiykum, kita semua menghormati para ulama, tapi sesuatu yang tidak lurus harus diluruskan, yang lupa harus diingatkan, karena manusia bisa lupa siapapun dia diingatkan"
Komentar Ane(Tedo Hartono):
Subhaanallah! Nasehat kedua masyaikh itu ga lurus? Mereka lupa? Sedangkan Luqman Ba'abduh yang lurus dan ingat?
Luar biasa!
Subhaanallah! Nasehat kedua masyaikh itu ga lurus? Mereka lupa? Sedangkan Luqman Ba'abduh yang lurus dan ingat?
Luar biasa!
Kemudian pada menit ke 36: 28 detik Luqman Ba'abduh mengatakan:
"Sampai-sampai, maaf saja, dengan terpaksa saya sampaikan; Syaikh Utsman dan Syaikh Abdullah pun terbawa dengan cara atau makar dan permainan Dzulqornain".
"Sampai-sampai, maaf saja, dengan terpaksa saya sampaikan; Syaikh Utsman dan Syaikh Abdullah pun terbawa dengan cara atau makar dan permainan Dzulqornain".
Komentar Ane(Tedo Hartono):
Subhaanallah! Apakah kedua Syaikh itu sebodoh yang disangka oleh Luqman Ba'abduh? Sampai-sampai kedua Syaikh itu digambarkan oleh Luqman Ba'abduh sebagai orang yang terbawa dengan cara atau makar dan permainan Dzulqornain?
Laa hawla wa laa quwwata illaa billah....
Judul daurohnya "Dosa-dosa terhadap Ilmu dan Ulama" telah dilakoni sendiri oleh pemateri dauroh, hadzaa syai-un 'ajiib.
Meniti Jejak Salaf dan yang semisal denganya, mari kita bersikap inshof dalam menilai dan jangan ghuluw! Sikap taklid buta kini telah disusupkan ke dalam tubuh kaum Salafiyyun, oleh karena itu wasapadalah.
Demikianlah pelecehan yang Ane isyaratkan pada komentar di atas, dan Ane telah penuhi apa yang antum inginkan, apakah Antum ingin mengambil pelajaran? semoga bermanfaat."
<------------------------------------------------
Adalah sebuah jawaban dari tantangan seorang ikhwan Pengekor Luqman Ba'abduh yang menantang Ane untuk membawakan bukti kalau Luqman Ba'abduh telah mencela ulama.
<------------------------------------------------
Adalah sebuah jawaban dari tantangan seorang ikhwan Pengekor Luqman Ba'abduh yang menantang Ane untuk membawakan bukti kalau Luqman Ba'abduh telah mencela ulama.
Sebenarnya ada komentar-komentar sebelumnya, yang sengaja tidak discreenshoot dan tidak ditampilkan oleh Purwito demi melancarkan kebiasaan buruknya. Foto screenshoot "gambar 4" yang diupload oleh Purwito dalam artikelnya tersebut adalah jawaban bukti dari pernyataan Ane yang ketika itu sedang menjelaskan celaan Luqman Ba'abduh terhadap ulama.
Mari kita lihat kronologinya pada foto screenshoot bernomor 1 sampai 8 di bawah, berikut keterangannya:
1. Foto screenshoot nomor 1: adalah status Facebook saudara Syahru Ramadhan Siregar. Dari sinilah bermulanya kronologi yang sengaja dipotong oleh Purwito.
2. Foto screenshoot nomor 2: Komentar Ane yang berisi peringatan dan ajakan agar akun yang berinisial "Meniti Jejak Salaf" bersikap adil, dan hendaknya Purwito juga merilis aib dan kebobrokan Luqman Ba'abduh dalam situsnya kalau memang ingin bersikap adil. Sayangnya Purwito hanya bisa melihat aib orang lain, sedangkan aib ustadznya sendiri ga keliatan. (Hebat kan?) Ketika ada yang menegur, serta merya si penegur dijatuhkan kredibilitasnya, pembunuhan karakter!
3. Foto screenshoot nomor 3: akun facebook berinisial "Meniti Jejak Salaf" menantang agar membawakan bukti dari keterangan Ane pada komemtar sebelumnya.
4. Foto screenshoot nomor 4: Ane sudah membawakan link rekaman lengkap sebagai bukti dan memenuhi permintaan dan tantangan akun "Meniti Jejak Salaf". Tapi Purwito tetap nekad dan ngotot menuduh Ane telah memotong ucapan Luqman Ba'abduh. (Luar biasa!)
5. Foto screenshoot nomor 5: akun yang berinisial "Meniti Jejak Salaf" tetap ngeyel walaupun Ane sudah berikan link rekaman lengkap dan meminta Ane "menulis" alias meminta Ane mentranskrip ucapan Luqman Ba'abduh yang Ane maksudkan sebelumnya. (Mirip dengan Purwito, dan anehnya, tidak lama setelah itu jawaban Ane muncul di situsnya)
6. Foto screenshoot nomor 6: Penjelasan Ane yang berisi bukti celaan Luqman Ba'abduh terhadap ulama. Penjelasan inilah yang sengaja dipotong oleh Purwito dalam rangka mendiskreditkan Ane dan menuduh Ane telah memotong ucapan Luqman Ba'abduh, padahal Ane sudah bawakan link rekaman lengkapnya pada komentar sebelumnya. Masa Ane harus transkrip semua isi rekaman? Ane masih waras! Purwito ajalah yang terjemahin? Lagian buang waktu Ane mentranskrip daurah yang tidak bermutu. Pernyatan ini sekaligus bantahan atas ucapan ngawur Purwito yang berbunyi:
"Dan silakan saudara Tedo atau Syahru Ramadhan-nya mentranskripnya secara utuh agar bisa menyuguhkan kembali kepada umat agar umat bisa memahami seutuhnya tipuan murahannya…"
Ane (Tedo Hartono) katakan sekali lagi: ente aja kali yang merasa tertipu, enak aja ente nyuruhin kite mentranskrip daurah yang tidak bermutu itu? Emang kite babu ente? Cukup didengarin aje tuh rekaman, kan Ane sudah sertain link rekaman lengkapnya? orang yang berakal sehat insyaAllah bisa memahami apa yang Ane paparkan di atas, tapi bagi orang yang kurang akal dan sakit hatinya memang agak sulit untuk memahaminya. Kenapa bukan ente sendiri yang transkrip? Ente kan fans Luqman Ba'abduh? Ente aja transkrip agar ummat bisa memahami seutuhnya kebobrokan pujaan ente itu.
7. Foto screenshoot nomor 7: lanjutan penjelasan dari foto screenshoot sebelumnya.
8. Foto sceeenshoot nomor 8: Akun FB yang berinisial "Meniti Jejak Salaf" tetap ngeyel walaupun Ane sudah bawakan bukti, sudah minta ditulisin kok masih ngeyel?. Padahal dari kronologi komentar sebelumnya, maksud Ane adalah; agar akh Purwito itu adil, kalau mau jujur nasehati ummat sebagaimana klaimnya, yah kebobrokan Luqman Ba'abduh diumbar juga donk dalam situs setan "tukpencarialhaq", jangan standa ganda! Gitu aja kok repot.
Demikianlah kronologi sebenarnya, bagi yang tidak tahu permasalahan sangat mudah tertipu oleh Purwito, karena memang Purwito ini agak licik dan pandai melakukan manipulasi, dia yang telanjang kok teriakin orang lain telanjang?" Alias "maling teriak maling". Walau demikian Ane pribadi tidak begitu heran, karena memang kerja akh Purwito ini suka menelanjangi orang lain agar ikut telanjang seperti dirinya, maka Ane nasehatin; berhati-hatilah dari "tukang sampah yang suka telanjangin orang".
Setelah mencatut delapan (8) nama ulama dalam rangka mensupport kiprah dakwah Luqman Ba'abduh, Purwito mengatakan:
" Setelah semua bukti nyata di atas, masih adakah yang berani berdiri, melantangkan suaranya mencibir, apa manfaatnya dars/daurah khusus masalah manhaj? Bukankah mengikuti dars/daurah manhaj tersebut tidak akan membentuk seseorang sebagai Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah??!!Ataukah hendak menghukumi para ulama Ahlussunnah di atas membahas ilmu yang sia-sia tiada manfaatnya? Allahul musta’an."
Bantahan:
Sebagai saudara dan sama-sama berada di atas manhaj salaf, mungkin Ustadz yang kalian benci itu hanya ingin menasehati Luqman Ba'abduh agar ia hikmah dalam berdakwah. Soalnya, hampir setiap tempat yang jika didatangi oleh Luqman Ba'abduh terjadi fitnah dan perselisihan di kalangan ikhwan. Namun jika kalian anggap itu adalah cibiran, yah kami maklumi, karena hanya kalian yang bisa mencibir dan yang lain ga boleh.
Harusnya Luqman Ba'abduh berterima kasih dan segera koreksi diri, berbesar hati dan bersabar. Bukan malah mengeluh lantas membalas dendam dengan mengadakan dauroh satu hari khusus mengghibahi saudaranya dengan semboyan "ikuti ulama".
Sebagai saudara dan sama-sama berada di atas manhaj salaf, mungkin Ustadz yang kalian benci itu hanya ingin menasehati Luqman Ba'abduh agar ia hikmah dalam berdakwah. Soalnya, hampir setiap tempat yang jika didatangi oleh Luqman Ba'abduh terjadi fitnah dan perselisihan di kalangan ikhwan. Namun jika kalian anggap itu adalah cibiran, yah kami maklumi, karena hanya kalian yang bisa mencibir dan yang lain ga boleh.
Harusnya Luqman Ba'abduh berterima kasih dan segera koreksi diri, berbesar hati dan bersabar. Bukan malah mengeluh lantas membalas dendam dengan mengadakan dauroh satu hari khusus mengghibahi saudaranya dengan semboyan "ikuti ulama".
Kalimat "seperempat jam lima belas menit" -dalam membantah dan menjelaskan penyimpangan- menurut Ane bersifat relatif dan hanya perumpaan bahwasanya para ulama itu lebih banyak sibuk dengan ilmu jika dibandingkan dengan bantah-membantah dan menjelaskan penyimpangan (walaupun itu bagian dari ilmu). Keadaan delapan ulama yang kalian sebutkan itu berbeda dengan Luqman Ba'abduh yang sibuk mengurusi masalah fitnah, sampai-sampai ia mengklaim dirinya sedang berbicara masalah "Al-Jarh wa At-Ta'diil", padahal Luqman Ba'abduh tidak memiliki pelajaran-pelajaran yang bersifat ilmiyyah sebagaimana para ulama yang kalian sebutkan.
Anehnya, di antara deretan ulama yang kalian sebutkan, nama Asy-Syaikh Utsman As-Saalimiy hafidzahullah juga kalian cantumkan. Sedangkan beliau dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Mar'iy hafidzahumallah ada dalam "jalsah di bandara"yang sedang dibantah oleh Luqman Ba'abduh dalam dauroh Slipi-nya! (Bukankah ini kontradiksi wahai saudara Purwito?)
Lihat saja dari nama-nama ulama yang kalian catut itu, adakah di antara mereka yang jauh-jauh datang ke daerah orang lain dan membahas "fitnah"?
Anehnya, di antara deretan ulama yang kalian sebutkan, nama Asy-Syaikh Utsman As-Saalimiy hafidzahullah juga kalian cantumkan. Sedangkan beliau dan Asy-Syaikh Abdullah Al-Mar'iy hafidzahumallah ada dalam "jalsah di bandara"yang sedang dibantah oleh Luqman Ba'abduh dalam dauroh Slipi-nya! (Bukankah ini kontradiksi wahai saudara Purwito?)
Lihat saja dari nama-nama ulama yang kalian catut itu, adakah di antara mereka yang jauh-jauh datang ke daerah orang lain dan membahas "fitnah"?
Di antara 8 nama yang disebutkan oleh akh Purwito, Ane agak sedikit heran dengan nama yang disebutkan pada point nomor 5:
"Prof DR. Muh bin Abdillah Al A’zhamy hafizhahullah:Aqidah Hindu – durasi 1 jam-an"
Durasi 1 jam-an? Apakah Akh Purwito ini benar-benar sudah mendengar semua rekaman itu? Tolong bawakan rekaman yang berdurasi "1 jam-an" itu!
Bukankah Anda mengatakan:
Bukankah Anda mengatakan:
" *Semua file di atas terarsipkan dengan baik, walhamdulillah"
Karena yang Ane ketahui, Asy-Syaikh Muhammad Dhiyaaurahman Al-A'zhomiy hafidzahullah ini punya kitab berjudul:
"Diroosaat fi Al-Yahuudiyyah wa Al-Masiihiyyah wa Adyaan Al-Hindi"
Donwload di sini : https://archive.org/details/drasatinynh
Donwload di sini : https://archive.org/details/drasatinynh
Bukan rekaman berdurasi 1 jam-an sebagaimana klaim akh Purwito, oleh karena itu Ane menunggu link rekaman yang dimaksud oleh akh Purwito, semoga saja bisa cepat dijawab dan dimuat dalam artikel berikutnya.
'Ala kulli haal, menganalogikan Luqman Ba'abduh dengan 8 orang Ahli ilmu yang disebutkan oleh akh Purwito adalah analogi yang rusak, soalnya Luqman Ba'abduh tidak dikenal dengan durus atau karya-karya ilmiyyah sebagaimana para ahli ilmu tersebut.
'Ala kulli haal, menganalogikan Luqman Ba'abduh dengan 8 orang Ahli ilmu yang disebutkan oleh akh Purwito adalah analogi yang rusak, soalnya Luqman Ba'abduh tidak dikenal dengan durus atau karya-karya ilmiyyah sebagaimana para ahli ilmu tersebut.
~Kembali kepada Kalimat "seperempat jam lima belas menit" -dalam membantah dan menjelaskan penyimpangan-~
Tidak semua (penduduk) daerah yang didatangi harus mengetahui fitnah dan penyimpangan individual atau kelompok yang menyimpang, inilah yang diinginkan oleh "sebagian dai" yang kalian benci itu, agar ummat ini tidak disibukkan dengan berbagai-macam fitnah dan agar mereka diajari ilmu dari Al-Quran dan As-Sunnah sebagai pondasi dan modal utama dalam mengenal dan mengamalkan agama Islam ini. Perkara ini berbeda dengan sikap aneh Luqman Ba'abduh yang seolah-olah tidak suka dengan hal itu dan mengharuskan (penduduk) daerah mengetahui fitnah dan penyimpangan individual atau kelompok yang menyimpang, walaupun mereka (penduduk daerah itu) tidak mengetahui bahkan tidak pernah mendengar sama sekali tentang fitnah itu. Sehingga terjadilah kebingungan dan perselisihan.
Apakah Luqman Ba'abduh tidak pernah membaca atau mendengar ucapan Ali bin Abi Tholib radhiyallahu an'anhu berikut ini?:
"حدِّثوا الناس بما يعرفون؛ أتحبون أن يكذب الله ورسوله؟". [رواه البخاري 127].
"Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui (pahami), apakah kalian suka Allah dan Rasul-Nya didustakan?" [AL-Bukhary: 127]
Juga ucapan Abdullah Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu:
: "ما أنت بمحدِّثٍ قوماً حديثاً لا تبلغه عقولهم إلا كان لبعضهم فتنة". [رواه مسلم في مقدمة الصحيح].
"Tidaklah engkau berbicara kepada suatu kaum dengan sebuah pembicaraan yang tidak dimengerti oleh akal-akal mereka, melainkan perkara itu akan menjadi fitnah bagi sebagian mereka". (Muslim dalam Muqoddimah Shahihnya).
Di akhir tulisannya, akh Purwito mengeluhkan:
" Lihatlah! Sesungguhnya kami telah berupaya sekemampuan kami untuk membawakan serta bukti-bukti nyata untuk membantahnya, maka silakan bantah pula dengan bukti nyata jika kalian memang berpunya karena kita tidak membutuhkan hilah berkelit dan permainan kata-kata semata yang kosong dari fakta!"
Bantahan:
Tuh di atas! Ane sudah sebutin bukti-bukti nyata untuk membantah ente, kami tidak butuh hilah berkelit dan permainan kata-kata semata yang penuh dengan manipulasi data walaupun ga nyambung.
Sepantasnya apa yang saudara Purwito paparkan disebut "syubhat" yang disulap menjadi "bukti" menurut perspektifnya sendiri, dia yang membawakan "bukti" dia pula yang menjadi hakimnya, bagaimana kiranya jika syubhat yang disebut oleh saudara Purwito sebagai bukti itu dibantah dan disanggah oleh orang lain dengan membawakan bukti yang membuktikan bahwa perbuatan saudara Purwito itu hanyalah manipulasi dan kesimpulan timpang yang dibangun di atas dasar kebencian dan prasangka? Jawabannya kembali kepada para pembaca.
Nasehat:
Kalau diri sendiri telanjang, jangan teriakin orang lain "telanjang", pada hakekatnya dirimu hanya mengundang perhatian orang lain dan memberitahukan kepada mereka bahwasanya dirimu sedang "telanjang".
Kalau diri sendiri telanjang, jangan teriakin orang lain "telanjang", pada hakekatnya dirimu hanya mengundang perhatian orang lain dan memberitahukan kepada mereka bahwasanya dirimu sedang "telanjang".
Allahul Musta'aan.
Washallallahu 'ala Nabiyyina Muhammad wa 'ala aalihi wa shohbihi wa sallam.



0 komentar:
Posting Komentar