Home » , , » Ole-Ole Berharga Untuk Luqman Ba'abduh Dan Para Pemujanya

Ole-Ole Berharga Untuk Luqman Ba'abduh Dan Para Pemujanya


Ole-Ole Berharga Untuk Luqman Ba'abduh Dan Para Pemujanya
Pertanyaan Kepada Syaikh Utsman As-Salimiy Hafidhahullah
Terhadap Permasalahan Dakwah di Aceh
(1 Dzulqo’dah 1435 H)
--------------------------------------------------
Ust. Farhan : “Assalaamu ‘Alaikum Warahmatullahi wabarakaatuh.”
Syaikh Utsman : “Wa’Alaikumussalaam warahmatullahi wabarakaatuh.”
Ust. Farhan : “Syaikh, yang berbicara denganmu adalah salah seorang anak didikmu (namaku)
Farhan, aku adalah salah seorang murid Syaikh Muhammad Al-Imam. Aku telah
kembali ke Indonesia empatbulan yang lalu.”
Syaikh Utsman : “Semoga Allah memuliakanmu, silahkan!”
Ust. Farhan : “Kami berasal dari daerah yang dahulu dilanda tsunami, daerah yang dahulu engkau rencanakan untuk dikunjungi, namun udzur yang menghalangimu.
kami sangat mengharap untuk bisa mengabarkan beberapa perkara yang terjadi dinegeri kami tentang kondisi Dakwah Salafiyah, dengan harapan engkau memberi nasihat dan arahan untuk kami.”
“Syaikh, kami informasikan bahwasanya di daerah yang kami tempati ini, didominasi dan dikuasai oleh Dakwah Ays’ariyah, Maturidiyah, dan Shufiyah. Sehingga mereka melakukan siasat buruk terhadap kami setiap saat. Di wilayah ini terdapat majelis ulama yang berada di bawah naungan pemerintah daerah, mereka diberi hak untuk menetapkan perkara-perkara yang berkaitan tentang urusan agama.”
“Di antara ketetapan yang mereka keluarkan adalah tuduhan terhadap Manhaj Salaf sebagai kelompok sesat, mereka memutuskan hal tersebut dikarenakan hal-hal berikut:
1. Karena Manhaj Salaf meyakini bahwasanya Allah beristiwa di atas Arsy
2. Karena Manhaj Salaf meyakini bahwasanya Allah berbicara dengan ucapan yang mengandung suara dan huruf
3. Karena Manhaj Salaf meyakini bahwasanya permasalahan penetapan Nama-nama dan Sifat-sifat Allah harus dilandasi oleh dalil dari Al-Quran dan Sunah, dan tidak boleh dilandaskan pada selainnya.
Dan perkara-perkara lain yang mereka ketahui sebagai pemahaman kami dan mereka yakini sebagai suatu kesesatan.”
“Oleh karena itu, kami sampaikan kepada engkau bahwasanya Dakwah Sufiyah,
Asy’ariyah, dan Maturidyah mendominasi dan memiliki kekuatan di wilayah ini, sehingga mereka membuat siasat buruk terhadap kami, bahkan mereka telah berhasil mempengaruhi pihak pemerintah yang mengakibatkan beberapa masjid yang biasanya digunakan untuk melaksanakan kegiatan belajar dan ta’lim.”
“Namun sangat disayangkan, dari sisi lain kami juga sedang menghadapi fitnah yang terjadi sesame salafiyin yang ditimbulkan oleh saudara Luqman dan Saudara (Syaikh) Hani’ bin Buraik, di mana mereka selalu mengobarkan api fitnah sesama salafiyin.”
“Sebagai contoh, beberapa hari yang lalu (Syaikh) Hani’ bin Buraik memberikan pelajaran di wilayah Jogjakarta dengan mencela dan menjelek-jelekkan ulama Yaman dengan ucapannya “Bahwasanya Fitnah Abul Hasan tatkala terjadi menjatuhkan banyak korban dari kalangan penuntut ilmu, dikarenakan ulama Yaman ketika itu hanya terdiam.”
“Demikian pula fitnah Hajuri tatkala menghampiri, menjatuhkan banyak korban dari kalangan penuntut ilmu, dikarenakan sikap diam yang mereka lakukan. Dan bahwasanya ulama Yaman tidak terbatas hanya yang disebutkan oleh Syaikh Muqbil bin Hadi Al-Wadi’i (rrhimahullah) dalam wasiatnya, dan dahulu Syaikh Muqbil telah memperingatkan (mentahdzir) dari Yayasan Al-Ihsa, padahal Syaikh Al-Imam bergabung dengan mereka, dan perkara-perkara selainnya yang menunjukkan bahwasanya ulama Yaman tidak terlalu memperhatikan perkara manhaj dan memperingatkan (mentahdzir) dari Hizbiyah.”
“Kemudian kami informasikan bahwasanya minggu depan atau dua minggu kedepan saudara Luqman akan datang memberi ceramah di wilayah kami, dan judul caramahnya “Jadilah Salafy yang Murni” (*demikian informasi awal yang diterima, dan terakhir diketahui judulnya terkait masalah ISIS).”
“Oleh karena itu wahai Syaikh, kami sangat berharap arahan dan nasihat dari engkau dalam menghadapi perkara ini, dan untuk tetap menyebarkan dakwah Al-Quran dan Sunnah..”
Kami persilakan wahai Syaikh...
Asy-Syaikh:
“Puji syukur kepada Allah, shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada NabiMuhammad beserta keluarganya. ‘Amma ba’du...
“Saya nasihatkan kepada kalian untuk senantiasa memfokuskan diri pada ilmu. Perkara yang paling penting adalah menyibukkan diri dengan menghafal matan-matan pelajaran yang bermanfaat.”
“Saya nasihatkan untuk memfokuskan diri menghafal Al-Quran, menghafal Hadits, serta memfokuskan diri untuk menghafal matan-mata pelajaran aqiidah seperti Al-Ushul Ats-Tsalatsah, Al-Qawwaidul Arba’, Kitab Tauhid yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab An-Najdi.Demikian pula matan Aqidah Wasithiyah, Aqidah Thahawiyah dan selainnya berupa matan-matanpelajaran yang bermanfaat, begitu pula mempelajari ushul tafsir.”
“Dengan bergulirnya waktu, insya Allah orang-orang akan mengetahui hakikat manhaj kalian..”
(Telepon terputus...)
(Lanjutkan wahai syaikh)
“Kami wasiatkan kepada kalian untuk memfokuskan diri mempelajari ilmu-ilmu yang bermanfaat. Tanamkan baik-baik kepada pelajar-pelajar kalian untuk senantiasa menghafal kaidah-kaidah dan ilmu-ilmu syariat serta menjauhi fitnah. Orang-orang yang terus berbicara tentang fitnah kesibukan mereka hanyalah mencela para ulama salafiyin dengan menamakan diri-diri mereka sebagai orang-orang sejati dalam manhaj. Mereka mengklaim bahwasanya yang mereka lakukan adalah At-Tashfiyah (pembersihan manhaj) Wat- Tarbiyah (pengajaran Manhaj).”
“Dengan izin Allah, suatu saat mereka akan mengetahui hakikat yang sedang mereka lakukan, bahwasanya mereka sedang berjalan di jalan yang keliru. Sebagaimana kami dahulu pada zaman Syaikh Muqbil, sebagian dari orang-orang yang semisal dengan mereka mengatakan “Syaikh Muqbil tidak mengerti tentang manhaj”. Ucapan ini dilontarkan oleh sebagian pelajar dari daerah Aden dan yang selainnya. Walhamdulillah, apa yang mereka lakukan itu semua terkubur dan tidaklah tersisa melainkan kebenaran.”
“Mereka yang mengklaim sebagai orang-orang sejati dalam manhaj, hanyalah membuat lelah diri-diri mereka sendiri. Sehingga ada beberapa dari mereka yang akhirnya hanya menyibukkan diri dengan berdagang, bahkan sebagian lainnya sampai meninggalkan shalat.”
“Seperti apapun kondisinya, teruslah memfokuskan diri untuk selalu belajar dan megajarkan ilmu.
“Jangan sibukkan diri kalian dengan Luqman!”
“Jangan mencari-cari perkara dengannya.”
“Saya nasihatkan kalian untuk menjauhi ceramah-ceramahnya,
jangan mengurusi ceramahnya,
dan jangan pula menyibukkan diri dengan membantahnya!.”
“Biarkan dia membuat jalannya sendiri. Suatu saat para ulama akan mengetahui hakikat manhajnya, karena manhaj yang nampak dari orang ini adalah manhaj yang keras (ekstrim).”
“Inilah yang kami ketahui dari metode dakwahnya”
(semoga Allah memberikan hidayah kepadanya). ”Apapun alasannya, teruslah memfokuskan diri untuk menuntut ilmu yang bermanfaat.”

“Adapun perkara tentang akidah Asy’ariyah yang mendominasi, ini adalah sebuah fitnah
(jalan keluar yang paling baik) Kalau seandainya pemerintah mengetahui bahwasanya manhaj Ahlisunah adalah Manhaj yang benar.”
“Katakan kepada mereka bahawasanya kalian berjalan bersama ulama Saudi Arabia, metode dakwah mereka adalah metode dakwah Salaf. Apakah metode dakwah mereka metode dakwah yang salah?! Metode dakwahnya Syaikh Bin Baz, (Syaikh) Shalih Al-Fauzan, Syaikh Utsaimin, Mufti saat ini Syaikh AbdulAziz Alu Syaikh. Sampaikan kepada mereka bahwasanya yang menjadi pemutus perkara antara kami dengan kalian adalah ulama Saudi Arabia.”
“Sampaikan kepada pemerintah dan yang bertanggung jawab dalam permasalahan ini bahwasanya Salafiyin tidaklah merugikan kalian. Sampaikan kepada kepala desa, agar kepala desa menyampaikannya kepada atasannya, hingga mereka menyampaikannya kepada gubernur. Karena pada hakikatnya pemerintah kalian sebagian mendukung kalian dan sebagian tidak mendukung.”
“Sampaikan kepada mereka bahwasanya kami tidak bermusuhan dengan pemerintah dan kami tidak memusuhi siapapun, kami hanya ingin menyampaikan kebaikan kepada masyarakat, mengajarkan agama kepada mereka sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.”
“Keyakinan kalian bahwasanya Allah ber-istiwa’ di atas ‘Arsy, katakan kepada mereka “Demikianlahyang tercantum dalam Al-Quran dan bukan kalian yang mengada-adakannya”. Allah berfirman (dalam Surah Thaha : 5) (artinya) “Ar-Rahman beristiwa di atas ‘Arsy”. Dan pada peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam naik ke langit ketujuh. Kalau seandainya Allah berada di mana-mana sebagaimana yang mereka yakini, niscaya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak perlu naik hingga ke Sidratul Muntaha.”
“Yang menjadi pemutus perkara antara kami dengan kalian adalah Ulama Saudi Arabia. Kalau seandainya kalian menuduh bahwasanya kami hanya penuntut ilmu yang baru belajar, kalau begitu kita meminta kepada Mufti Saudi Arabia Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh untuk memutuskan perkara diantara kita, karena dia Mufti di negara yang besar, atau sampaikan kepada mereka untuk meminta putusan dari Imam-imam masjidil haram. Apa yang mereka putuskan kami akan patuhi.”
“Inilah yang aku wasiatkan kepada kalian untuk selalu menyibukkan diri dengan menuntu ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, serta teruslah berdoa kepada Allah untuk menjauhkan fitnah dari kalian
Dan insya Allah orang-orang yang menentang kebenaran tersebut akan mengetahui hakikat sebenarnya, sehingga mereka bisa mengambil pelajaran atau orang lain selain mereka yang bisa mengambil pelajaran (dengan izin Allah)
“Inilah arahan yang aku sampaikan pada tanggal 1 Dzul Qa’dah 1435 H yang bertepatan dengan 29/30Agustus 2014
“Semoga Allah senantiasa memberi taufik-Nya untuk kalian.”

Sumber artikel :

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.