Home » , » Syaikh Asykari dari Balikpapan LEBIH ‘ALIM DARI PARA SAHABAT NABI

Syaikh Asykari dari Balikpapan LEBIH ‘ALIM DARI PARA SAHABAT NABI



Syaikh Asykari dari Balikpapan LEBIH ‘ALIM DARI PARA SAHABAT NABI

SYAIKH ASYKARI AL-BUGHISY mengharuskan ummat untuk bermauqif dan mencela orang yang Tawaqquf, hal ini menunjukkan kejahilannya berbicara tanpa Ilmu (diantara point kajian di Samarinda Sabtu sore kamarin di Ma’had Ta’zhimus Sunnah Gunung Lingai)

APAKAH TAWAQQUF DI MASA FITNAH SIKAP YANG TERCELA?

Di saat fitnah mengguncang Ahlus Sunnah, banyak saudara--saudara kita yang tidak bisa membedakan antara “Fitnah dalam Agama (yang tidak ada khilaf tentang kesesatannya di kalangan Ulama’)” dan “Fitnah di kalangan Ahlus Sunnah (yang masih terjadi khilaf di kalangan Ulama’)”. Ketidak pahaman inilah yang menyebabkan munculnya kejelekan-kejelekan di kalangan Ahlus sunnah sendiri.

Perlu kita ketahui bahwa tercelanya sikap Tawaqquf adalah ketika seseorang Tawaqquf dalam fitnah yang merupakan ”urusan Agama”, seperti Fitnah “Al-Qur’an adalah Makhluk”, Dalam hal ini barang siapa yang Tawaqquf (diam dan tidak mengambil sikap) bahwa “Al-Qur’an bukan Makhluk” maka dia telah mengambil sikap yang tercela. Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata Tawaqquf lebih jelek dari Jahmiyah”.

Yang menyedihkan adalah sebagian Ahlus Sunnah bahkan sebagian du’at menjadikan qaul Al-Imam Ahmad sebagai dasar untuk mencela orang-orang yang bersikap Tawaqquf dalam “Fitnah di kalangan ahlus sunnah (yang masih terjadi khilaf di kalangan Ulama’)”. Merekapun memaksa orang-orang yang bersikap Tawaqquf untuk bermauqif (menentukan sikap), siapa yang Tawaqquf berarti dia mendukung orang yang di Jarh (di Tahdzir), bukan Ahlus Sunnah, tidak di ajak bicara, tidak di jawab salamnya, dia seolah-olah virus yang harus disingkirkan dari lingkungan mereka. Dan jika tidak mentahdzirmaka akan di tahdzir.

Saudaraku, Fitnah yang menimpa Ahlus Sunnah sekarang ini adalah Fitnah antar asatizdah dan Ahlus Sunnah bukan Fitnah yang merupakan urusan Agama, tidak ada bedanya dengan Fitnah di masa Utsman bin Affan radhiyallohu’anhu. Perhatikanlah sikap diantara para sahabat dalam Fitnah ini.

Dari Husain bin Kharijah Al-Asyja’i, ia berkata : “Ketika Utsman terbunuh, fitnah yang merebak membuat aku bingung. Maka aku berdo’a ‘Ya Alloh, tunjukkanlah kepadaku kebenaran yang bisa aku ikuti.” Ternyata aku melihat dalam mimpiku dunia dan akhirat hanya dipisah dengan satu dinding. Aku memasuki dinding itu dan bertemu dengan beberapa orang. Orang-orang itu berkata : “Kami adalah para malaikat”. Aku bertanya ; “Dimanakah para Syuhada’?”. Mereka menjawab : “naiklah anak tangga itu”.

Akupun menaiki anak tangga satu demi satu. Disana Aku bertemu dengan Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim ‘alayhimassalam. Aku mendengar Nabi Muhammad berkata kepada Nabi Ibrahim : ‘Mohonkanlah ampunan untuk ummatku”. Nabi Ibrahim berkata : “sesungguhnya engkau tidak tau apa yang mereka (ummatmu) kerjakan sepeninggalmu. Sesungguhnya mereka telah mengalirkan darah mereka sendiri danmembunuh imam serta pimpinanan mereka (Utsman radhiallahu’anhu). Mengapa mereka tidak melakukan sesuatu seperti yang telah dilakukan Sa’ad (ya’ni Sa’ad bin abi waqqash).”

Saat aku terjaga aku baru sadar bahwa aku sedang bermimpi. Aku langsung mendatangi Sa’ad dan menceritakan mimpiku kepadanya. Ketika mendengar ceritaku dia sangat senang. Dia (Sa’ad) berkata ; “sungguh merugi orang-orang yang tidak menjadikan Ibrahim ‘alayhissalam sebagai kekasihnya.” Aku berkata : “Jika demikian, dari dua kelompok yang ada (kelompok yang membela Utsman dan kelompok yang menyerangnya), engkau ini termasuk kelompok yang mana?” Sa’ad menjawab : “Aku tidak termasuk dalam kedua kelompok tersebut.” Aku berkata : “Jika demikian apa yang engkau perintahkan kepadaku?” Dia berkata : “Apakah engkau memiliki seekor kambing?” Aku menjawab : “Tidak” diaberkata : “Jika demikian, belilah seekor kambing dan setelah itu renungkanlah sampai segala sesuatunya jelas bagimu (maksudnya tetap tinggal di rumah sampai fitnah mereda).” [al-Imam adz-Dzahabi fi Siyar A’lamin Nubala’ (1/120), semua perowi yang meriwayatkan adalah tsiqoh].

Demikian pula cerita tentang perginya Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu dari perang Jamal, beliau tidak memihak Ali dan juga tidak memihak Aisyah radhiyallahu’anhuma.

Adakah para sahabat yang memihak Ali maupun Aisyah mencela Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu’anhu dan yang bersamanya karena sikap tsb?. "tidak" ya Syaikh Asykari

Syaikh Asykari bilang dalam kajian tsb “orang yang mengaku salafy belum tentu salafy”, ucapannya ini bagus untuk dia tujukan untuk dirinya sendiri. Kenapa dia tidak mengikuti jejak para sahabat tapi malah mencela orang yang bersikap Tawaqquf?

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.