Home » » Tragedi Karimata 1

Tragedi Karimata 1


Sore itu kami sekeluarga ada di kota Jember dalam rangka bersih-bersih rumah di perum muktisari. Rumah itu hampir 4 bulan tidak kami huni, tepatnya sejak kami dipaksa untuk meninggalkan kota jember oleh orang-orang yang tidak beradab dan jauh dari sifat manusiawi itu.

Ya...tragedi demi tragedi telah kami lalui. dan salah satu yang bisa kami ceritakan dalam kesempatan kali ini adalah tragedi yang terjadi di Jalan Karimata Jember.


Sore itu...seusai agenda bersih-bersih rumah, kami berencana untuk mengurus SPT perusahaan, dan perjalananpun kami lanjutkan menuju kantor pajak di jalan karimata JEMBER. Sejuknya hawa kota Jember mampu membuat kami untuk sejenak melupakan kenangan buruk di kota itu, dan kami tidak memilki firasat apapun ketika berita kedatangan kami di kota itu telah menjadi bahan pergunjingan diantara orang-orang pondok. Sehingga kami tidak merasa perlu untuk berprasangka apapun terhadap mereka.. Kami merasa juga tidak perlu terlalu berhati-hati, biasa-biasa saja lah, toh masalahnya sudah lama berlalu...itulah pikiran yang ada di benak kami waktu itu..

Mobil saya parkir di tepi jalan depan gedung kantor pajak dan didalam mobil tersebut masih tertinggal anak dan istri saya, sengaja memang tidak di parkir di dalam, karena rencananya tidak akan lama kami singgah di tempat itu. Sampai suatu saat mobil tersebut terlihat oleh salah satu orang pondok yang telah mencium kedatangan kami sekeluarga, dan orang ini telah hafal betul dengan ciri-ciri mobil yang kami kendarai.

Orang-orang pondok dengan penampilan muslim taat lengkap dengan aksesoris jenggot, peci, dan gamis, dalam pandangan kami yang baru belajar mengenal sunnah ini adalah orang-orang yang suci dengan tingkatan ma'rifat yang tinggi kepada Alloh, yang bersungguh-sungguh dalam keimanan dan ketaqwaan mereka. Apalagi label jihad ambon dan poso telah menempel di pundak-pundak mereka sehingga mereka (menurut kami saat itu) sangat layak untuk disebut sebagai mujahidin, dan sungguh kami merasa sangat mulia untuk hanya sekedar hidup berdampingan dengan mereka, menjadi teman-teman mereka adalah suatu yang sangat bernilai besar bagi kami. Karena motivasi tulah kami sekeluarga hijroh dari tanah kelahiran saya kota Surabaya menuju kota Jember. Dan sungguh tidak terbesit sedikitpun harapan dalam diri-diri kami kecuali harapan untuk mendapat JannahNya..

Salah satu orang pondok itu...sebut saja Pak Abu....sangat dikenal oleh anak saya....sebelum ini Pak Abu adalah sosok pria yang sangat dekat dengan keluarga kami, tidak jarang beliau menyempatkan waktu untuk makan siang dan atau makan malam di rumah kami. 

Ya begitulah kedekatan dan persahabatan tidak ada artinya bila dibanding dengan loyalitas /wala wal baro' kepada manhaj dan agama ini, itulah sebagian ilmu yang kami dapatkan dari para ustadz-ustadz kami. sehingga ketika tahdzir (peringatan bahaya) itu mengenai salah seorang diantara manusia maka secara sontak sikap dan muamalah kami akan berubah 180 derajat. Yang awalnya berteman akhirnya bermusuhan...ya begitulah kurang lebih konsekuensi dari manhaj yang kami yakini.. Dan tahdzir itu adalah hak prerogatif /ijtihad Ustadz kibar setelah meneliti dan menimbang. Dan sangat buruk akibatnya apabila tahdzir tersebut salah sasaran (DAN INI TIDAK JARANG TERJADI), dan apabila ini terjadi maka orang yang tidak bersalahpun akan terkena dampak tahdzir ini...dimusuhi, didzolimi, dan diusir. Dan musibah inilah yang menimpa keluarga kami. 

Pak Abu cukup lama menyanggong kedatangan saya di dekat mobil kami. yang didalamnya masih berisi anak dan istri saya. ....


bersambung InsyaAlloh...

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.