Home » , , , » Dakwah Ust Luqman tidak Meneladani Para Ulama

Dakwah Ust Luqman tidak Meneladani Para Ulama



Saudaraku…

Tidaklah kejelekan yang telah merusak tatanan persatuan Ahlus Sunnah dan da’wah salafiyyah di negri kita ini melainkan disebabkan api fitnah yang telah dikobarkan oleh orang-orang yang tidak memiliki rasa malu. Merekalah Al-Ustadz luqman Ba’abduh dan yang bersamanya.

Tidakkah mereka sadar terkhusus Al-Ustadz Luqman Ba’bduh, ketika terjadi Ishlah 2005 M maka ditutuplah lembaran hitam kiprah da’wah mereka dan dibukalah lembaran baru yang putih bersih untuk memulai kembali membangun da’wah yang mulia ini diatas bimbingan para ulama. Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya tidak pernah lagi meminta ruju’ mereka dan juga tidak mempersyaratkan adanya perbaikan dan penjelasan atas fitnah yang telah mereka tebarkan, bahkan tidak pula terlontar di lisan Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya agar menangguhkan diterimanya ilmu mereka selama satu tahun. Mengapa hal ini dilakukan oleh Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya???, karena kemashlahatan untuk Salafiyyun itu lebih utama, Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya banyak memberikan udzur kepada mereka sebagai sebab terjadinya persatuan dikalangan Ahlus Sunnah. Bahkan apa yang kita liat setelah Ishlah mereka mengadakan Dauroh Ishlah, bagaimana sekiranya Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya memberlakukan syarat satu tahun untuk diterimanya ilmu mereka?.

Ternyata Al-Ustadz luqman Ba’abduh dan yang bersamanya tidak menghargai kebaikan saudaranya ini, Ishlah 2005 M dia robek kembali, saat Daurah di Slipi Al-Ustadz luqman Ba’abduh mengatakan "Masa ustadz kadzdzab, bagi yang ingin reuni dan muroja’ah, yaa silahkan dengarkan kembali kaset Al Ustadz Asykari yang berjudul “ Silsilah Al Kadzdzaabiin” (rekaman sebelum terjadi Ishlah 2005 M)), silsilah sejarah para pendusta al kadzdzaabiin, disebutkan misalnya perowi-perowi pendusta terus sampai di zaman ini adalah Dzulqarnain Bin Muhammad Sanusi". Inilah ucapan yang akan menyingkap kembali tabir hitam kiprah da’wahnya yang dia belum ruju’ darinya.

Saudaraku…

Perhatikanlah foto yang saya sertakan dalam catatan ini, foto tersebut saya ambil dari situs Al-Akh Purwito (Abdul Ghafur Al-Malanjy) hadahullah.

Perhatikan pula ucapan Al-Ustadz Muhammad As-Sewed ini : “TANGAN mereka BERDARAH…”, astaghfirullah, “Siapa PIMPINAN FATWA nya ketika itu ——» komisi FATWA nya ketika itu adalah DZULQARNAIN IBNU SUNUSI…!!” Dia nggak TERLIBAT…?? Nggak BERDARAH tangannya…?? AJIIIB…!! ALLAHU YAHDIH… ALLAHU YAHDIH NA WAIYYAH.” (sudah saya beri tanggapan sedikit di status saya sebelumnya tentang ucapan beliau ini)

Data dan fakta dilapangan jauh berbeda dengan apa yang mereka tampilkan (suguhkan) kepada Ahlus Sunnah. Ketahuilah!... Saat bubarnya Laskar Jihad pada tahun 2002 M yang menjadi Dewan Fatwa (Mufti) LJ adalah Al-ustadz Asykari. Lihatlah bentuk kelicikan asatidzah mantan LJ, di saat ruju’ saja mereka masih saja menebar kedustaan. Mana nama Al-Ustadz Asykari???. Sedang fakta yang kita saksikan bahwa Al-Ustadz Dzulqarnain Keluar dari Dewan Fatwa LJ pada tahun 2001 M yang kemudian digantikan oleh Al-Ustadz Asykari. 

Dan bentuk ruju’ Al-Ustadz Dzulqarnain, Al-Ustadz Khidir dan yang bersama mereka dari penyimpangan Laskar Jihad saat itu adalah (1) keluarnya mereka dari kepengurusan Laskar Jihad, (2) Al-Ustadz Dzulqarnain menyampaikan muhadharah berupa nasehat [dua kaset] yang kemudian dibalas oleh Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan yang bersamanya dengan puluhan kaset tahdzir, (3) mereka melaporkan 10 point penyimpangan Laskar Jihad kepada para ulama, yang mereka sendiri jatuh pada beberapa point penyimpangan tersebut, dan (4) di kajian-kajian mereka, mereka menyesali kesalahan-kesalahan mereka di masa LJ, seperti demontrasi, dll bahkan mereka menjelaskan ushul Ahlus Sunnah yang mana mereka pernah menyelisihinya. Cukuplah 4 hal ini menjadi bukti ruju’nya Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya dari LJ.

Setelah bubarnya Laskar Jihad/FKAWJ bukan berarti fitnah telah berakhir, Al-Ustadz Luqman Ba’abduh bukannya bersyukur kepada Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya dengan bubarnya LJ/FKAWJ akan tetapi mereka terus mengobarkan api fitnah dan kedustaan kepada Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya selama kurang lebih tiga tahun berturut-turut sampai terjadinya Ishlah tahun 2005 M. Karena itulah setelah bubarnya LJ/FKAWJ al-Ustadz Luqman Ba'abduh dan yang bersamanya tetap melarang Salafiyyun belajar (mengambil ilmu) kepada Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang besamanya sampai terjaadi Ishlah 2005 M.

Permasalahan… adakah Al-Ustadz Luqman Ba’abduh dan yang bersamanya mengumumkan ruju’nya dari fitnah yang telah mereka kobarkan antara setelah bubarnya LJ dan Ishlah 2005 M sebagaimana yang tertulis dalam “hasil Ishlah” yang di tandatangani para asatidzah saat itu???. Fakta : ternyata hasil Ishlah tersebut mereka sembunyikan di beberapa daerah, termasuk di Balikpapan. Adakah mereka mengamalkan ayat “illalladzina tabu wa ashlihu wa bayyanu”?.

Seharusnya orang yang memiliki rasa malu, dia akan melihat aib dirinya sebelum mengurusi aib saudaranya. Rasa malu itulah yang akan menahan lisannya dari mencela dan menjatuhkan saudaranya. Rasa malu akan melahirkan sikap inshof dan adil dalam menyikapi kesalahan saudaranya dengan bertemu empat mata, bertatap muka, saling mengingatkan sebagai saudara. Apabila saudaranya menentang nasehatnya barulah dilaporkan kepada para ulama.

Akan tetapi orang yang tidak lagi memiliki rasa malu adalah (1) orang yang tidak bisa bersyukur atas kebaikan saudaranya yang telah banyak memberikan udzur kepadanya, (2) selalu menghindar saat bertemu dengan saudaranya yang ia berselisih dengannya, (3) menyerang dari belakang, (4) membuat makar kepada para ulama untuk menjatuhkan saudaranya, dan (5) orang yg memiliki sifat sombong.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata : orang yang sombong akan memandang dirinya dengan pandangan kesempurnaan, dan terhadap orang lain ia akan memandang dengan pandangan kekurangan, (maka sikap inilah) yang mengantarkannya untuk menghina dan merendahkan orang lain, dan tidak menerima kebenaran yang datang dari orang lain. (Jami’ul ulum Wal Hikam)

Saudaraku…

Kita sepakat bahwa (Manhaj) Tahdzir kepada Ahlul Bid’ah adalah prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah. Akan tetapi belakangan ini muncul khilaf tentang “boleh tidaknya dalam sebuah muhadharah (Dauroh) atau kajian yang keseluruhan, atau ½, atau ¼-nya berisi Tahdzir!?”. Dan kita mengetahui Al-Ustadz Dzulqarnain dan yang bersamanya selama ini berjalan bersama para ulama dalam masalah ini.

Asy-Syaikh Utsman As-Salimy berkata : Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah pernah keluar berdakwah ke Shon’a dan beliau mengatakan kepada hadirin untuk tidak bertanya tentang hizbiyin, tidak pula tentang Ikhwanul Muslimin, hal itu juga demi agar tidak lebih menguatkan tuduhan hizbiyun bahwa Ahlus Sunnah kerjaannya hanya berbicara tentang fulan dan fulan. Beliau juga berkata : Dan tidak mengapa kepada para thullabul’ilm engkau ingatkan dari prinsip-prinsip hizbiyin, adapun kepada manusia secara umum hendaklah engkau tanamkan prinsip-prinsip ilmu syar’i, inilah pelajaran manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah, yaitu manhaj yang dibangun di atas dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman Salaf, engkau ajarkan Al-Qur’an, Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, kitab-kitab Sunan, Musnad Ahmad dan kitab-kitab para ulama lainnya. Tidaklah manhaj itu hanya berbicara tentang ahlul bid’ah, mentahdzir dari fulan dan fulan, bahkan yang paling utama adalah tentang agamamu, bukan tentang orang lain.

Syaikh Muqbil rahimahullâh, sering berucap, “Kami dalam membantah ahlul bid’ah hanyalah seperti orang yang berjalan sambil menampar siapa saja yang perlu diberi pelajaran.”

Yang berjalan di atas Manhaj ini bukan hanya Asy-Syaikh Muqbil, tapi juga ditempuh oleh Syaikh Rabi’ dan masyaikh (para ulama) lainnya. Adakah kita menyaksikan atau mendengarkan kaset dari para ulama yang muhadharah mereka ¾, ½, atau ¼-nya adalah berbicara tentang hizbiyyun, fulan dan allan!?. Jelas… tidak sama sekali pernah kita temukan para ulama yang menempuh cara ini termasuk Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi sendiri, kecuali mereka berbicara tentang kelompok yang sangat membahayakan seperti Syi’ah Rafidhah, dan yang semisalnya. [inilah manhaj yang ditempuh oleh para ulama salaf]

Apa yang ditempuh Al-Ustadz luqman Ba’abduh dan yang bersamanya jauh dari penauladanan terhadap para ulama. Bukti yaitu berupa rekaman dauroh-dauroh mereka terutama Al-Ustadz luqman Ba’abduh yang telah tersebar, yang isinya 1/4, atau ½-nya adalah Tahdzir kepada hizbiyyun, jam'iyyah, dan fulan. Yang dengan ulahnya ini banyak orang-orang awwam menilai negatif da’wah salafiyyah yang mulia ini.

Akan tetapi Al- Al-Ustadz luqman Ba’abduh dan yang bersamanya tidak merasa bersalah bahkan mereka mencari pembenaran untuk membenarkan Manhaj tahdzir (versi baru) mereka. Perhatikanlah tanggapan Al-Ustadz Muhammad As-Sewed berikut : “Penggembosannya (Al-Ustadz Dzulqarnain, pen) terhadap MANHAJ TAHDZIR – yang dia harus taubat. Kalau mau diulang rincian rekamannya, banyak rekamannya. Seakan-akan perkara tahdzir tidak penting, perkara remeh, perkara yang sedikit aja cukup. Padahal ketika ditanyakan kepada Syaikh Muhammad bin Hadi ~hafidzahullah~, beliau menyatakan bahwa RUDUD (bantahan-bantahan) itu seimbang dengan Al-‘ARD (penyampaian).
*Al-‘ARD (PENYAMPAIAN KEBENARAN) ——» diiringi dengan ——» RAAD (PENJELASAN KEBATILAN)* … (Jadi) jangan diremehkan!!! Harus seimbang diantara dua perkara.
Bahkan beliau (Syaikh Muhammad bin Hadi) berkata :
*Kebanyakan kitab-kitab ushul dari pada ulama, itu (asalnya) dari bantahan-bantahan* … Prinsip-prinsip Ahlussunnah, kenapa muncul buku-buku itu…?? Sebab membantah…!! … Sedang membantah ahlul bid’ah!!! “Mereka bukan Ahlussunnah!!! Nih prinsipnya ini nih, bukan yang itu!!! Ini!!! Yang kedua, bukan seperti mereka… Ini!!!, bukan seperti mereka.” … Sehingga ikhwani fiddien a’azzakumullah, “Kalau setiap kajian membantah ahlul bid’ah, itu ngomong apa? Nggak salah? Emang nggak ada kajian lain selain TAHDZIR…!!!???” ——» itu nggak merasa salah dia (Al-Ustadz Dzulqarnain, pen). Nggak merasa kalau itu adalah RACUN YANG TELAH DIMAKAN oleh sekian banyak Salafiyyin di Jakarta, dan dari seluruh Indonesia.”

Lihatlah bagaimana mereka mencari pembenaran atas perbuatan mereka. Lagipula perhatikanlah kembali ucapan Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi di atas “Kebanyakan kitab-kitab ushul dari pada ulama, itu (asalnya) dari bantahan-bantahan”. Disini beliau menyebutkan “kitab-kitab”, maka kita pahami bahwa para ulama terdahulu dalam membantah Ahlul Bathil (secara menyeluruh atau 1/2-nya) melalui kitab-kitab, atau tulisan-tulisan, tidaklah ada di majlis-majlis mereka berbicara tentang tahdzir kecuali sedikit. Dan jalan yang mereka tempuh terwariskan secara turun-temurun kepada Ahlul ilmi di masa ini.

Al-Ustadz Muhammad As-Sewed pun berkata “yang dia (Al-Ustadz Dzulqarnain) harus taubat”. Taubat dari apa ustadz? taubat dari manhaj tahdzir versi baru kalian?, apakah atas dasar ini yang mendasari keluarnya tahdzir Asy-Syaikh Rabi’ hafizhahullah kepada al-Ustadz Dzulqarnain?, ini tidak adil.

Adakah selama ini Asy-Syaikh Rabi' hafizhahullah (dan para ulama lainnya) mengadakan sebuah Dauroh yang keseluruhan, atau 1/2 dari materinya berbicara tentang Salman, Safar, Ali Hasan, hizbiyyun, jam'iyyah, dll?. Tidak kita dapati perbuatan/amalan ini dari para ulama kecuali pada diri Al-Ustadz Luqman Ba'abduh dan yang semisal dengannya. Apakah metode Tahdzir yang ditempuh para ulama adalah RACUN???.

Demikianlah keadaan ummat apabila urusan agama dipegang oleh orang-orang yang tidak punya rasa malu, terjadilah kerusakan dalam da’wah ini.

by : Pencari Al-Haq

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.